Sombong, Ujub dan Riya'

Senin, 13 September 2010 Label:
SOMBONG adalah menganggap dirinya melebihi orang lain dan merendahkan orang lain.

Ketika menagnggap dirinya BAIK, tanpa menanggap orang lain jelek atau menjelekkan orang lain, bukan suatu kesombongan.

Ketika menganggap diri kita JUJUR, tanpa menganggap Orang Lain DUSTA, atau MENDUSTAKAN orang lain, bukan kesombongan.

Ketika kita "menjual barang" dan mengatakan BARANG KITA BAIK, tanpa bermaksud menjelekkan barang orang lain, bukan kesombongan.

Kesombongan, riya' dan ujub adalah satu rumpun sifat yang bisa membelenggu langkah ibadah kita. Riya' adalah keinginan untuk dipuji orang setiap kali melakukan perbuatan. Ujub adalah bangga diri. Merasa diri hebat dan terpuji. Dan puncaknya adalah kesombongan. Merasa diri hebat, sekaligus bangga akan kehebatamya, dan akhirnya memamerkan 'kehebatan'nya itu kepada orang lain. Padahal sih, belum tentu dia seorang yang benar-benar hebat.

Lebih jauh sifat-sifat itu akan berakibat pada sikap merendahkan orang lain. Cuma dia raja yang paling hebat. Paling pantas. Paling pintar. Paling kaya. Paling berkuasa. Dan paling segala-galanya. Orang-orang di sekitarnya merasa neg dan benci. Allah dan para malaikat-Nya pun tidak menyukai.

QS. An Nissaa' (4) : 36
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

QS. Al Israa' (17) : 37
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Ya, kita seringkali berlebihan. Seakan-akan kita ini orang yang hebat. Ayat di atas mengingatkan, agar jangan sombong karena kita tidak bisa menembus bumi atau setinggi gunung. Ah, kita ini sebenarnya memang makhluk yang lemah, tapi banyak lagak dan menyebalkan.

QS. Al Qiyamah (75) : 32-33
tetapi ia mendustakan dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada kelompoknya dengan berlagak (sombong).

Orang sombong akan menuai hasil kesombongannya. Ketika orang-orang di sekitarnya merasa risih dan benci, ketika alam menjadi korban kesewenang-wenangannya, dan ketika Allah beserta para malaikatnya tidak menyukai lagaknya, maka yang datang adalah derita. Disebabkan oleh ulah mereka yang menabrak keseimbangan semesta.

QS. Faathir (35) : 43
karena kesombongan di muka bumi, dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

Dalam konteks pusaran alam semesta yang sedang kita bahas, orang-orang yang sombong adalah mereka yang bergerak menjauhkan diri dari Arsy Allah. Bahkan, ketidakseimbangan itu akan membuat mereka terpelanting semakin jauh dariNya.

QS. Al Mulk (67) : 21
Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?

Dalam kalimat yang berbeda, Allah menginformasikan bahwa orang-orang yang sombong itu tidak akan bisa menembus dimensi-dimensi langit sebagaimana telah dialami oleh orang-orang yang saleh. Termasuk nabi Muhammad dan nabi Khidhr.

QS. Al A'raaf (7) : 40
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Nabi Muhammad bisa melihat surga karena beliau telah menembus dimensi-dimensi langit pada saat Mi'raj. Saat itu beliau digambarkan berada di Sidratul Muntaha. Di puncak dimensi tertinggi, dekat Arsy Allah.

Sebaliknya, orang-orang yang sombong dijamin tidak akan masuk surga. Karena tempatnya memang di neraka. Bahkan, yang sudah berada di dalam surga pun oleh Allah diusir keluar.

QS. Al A'raaf (7) : 13
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".

QS. Al A'raaf (7) : 36
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Ujub adalah salah satu perbuatan yang merusak amal dan membinasakan pelakunya. Bahwasanya ujub adalah penyakit yang menghilangkan dan berlawanan dengan keikhlasan, menghilangkan rasa dzull (hina atau rendah) kepada Allah dan menunjukkan buruk dan jeleknya adabnya kepada Allah; maka ujub itu menbanggakan diri dan buta akan akan aib dan keburukan diri.

Ujub, Riya' dan Sum'ah
Ujub adalah memperlihatkan ibadah dalam bentuk sombong dan membesarkan diri dari manusia dan memperbanyak amalan tersebut. Ujub itu temannya riya', tetapi riya' itu perbuatan syirik kepada Allah dan yang dijadikan sekutu adalah makhluk selain dirinya, sedangkan ujub yang dijadikan sekutu adalah dirinya sendiri. Jadi riya' itu beribadah kepada Allah tetapi disertai niatan dan tujuan lain dari perkara dunia. Sementara ujub itu merasa hebat, paling pintar dan menyombongkan diri dihadapan Allah. Naudzubillahimindzaalik..

Pelaku riya' itu tidak merealisasi firman Allah 'Iyyaka na'budu' (Hanya kepada-Mu kami menyembah) sedang pelaku ujub tidak merealisasi firman Allah 'Iyyaka nasta'iin' (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Maka barang siapa yang merealisasi 'Iyyaka na�budu' menghilangkan riya', sedangkan yang merealisasi 'Iyyaka nasta'iin' menghilangkan ujub.

Ujub itu di dalam hati sedangkan sum'ah itu dengan lisan dan sum'ah itu semakna dengan riya' dalam hal sekutunya yaitu selain Allah dari makhluk. Maka sum'ah itu memperdengarkan amal kebaikannya kepada orang lain agar mendapat pujian atau dikatakan hebat.

Perbedaan antara kibr (sombong) dan Ujub
Ujub itu takjub dengan amalannya, memuji diri sendiri dan melupakan Allah swt. Ia tidak membesarkan diri di hadapan orang lain dan tidak merendahkan manusia. Tapi jika ujub ini sampai melihat dirinya lebih baik dari yang lain dan merendahkannya maka tatkala itu pula ia telah sombong.

Di antara sifat yang terkumpul dalam ujub :

* Buta dengan dosa yang telah ia lakukan
* Menganggap kecil dosa yang banyak
* Buta dengan kesalahan-kesalahannya
* Perkataannya bukan kebenaran
* Menimbulkan sombong dan bangga di atas orang lain
* Menipu Allah swt yang ditunjukkan dengan amal dan ilmunya sampai seakan-akan ia adalah orang yang mendapat karunia (yang dipilih) Allah


Sebab Ujub

1. Bodoh dengan hak Allah ta'ala, tidak adanya pengagungan kepada Allah dengan sebenarnya, sedikitnya ilmu dengan Nama dan Sifat Allah dan lemahnya ia ketika beribadah dengan Nama dan Sifat Allah tersebut .
2. Lalai dengan hakekat dirinya, sedikitnya ilmu tentang tabiat dirinya dan lalai dengan muhasabah dirinya, dan lalai dari pengawasan Allah .


Mengobati Sifat Ujub

1. Mengenal Allah, merealisasi pengagungan kepada-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, menegakkan peribadatan kepada-Nya dengan Asma dan Sifat-Nya; sesungguhnya kebaikan itu semua ditangan Allah, rohmat-Nya meliputi segala sesuatu. Allah berfirman : Artinya : "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu maka dari Allah lah datangnya". ( An-nahl : 53 )

2. Mengenal dirinya, mengilmui tentang banyaknya ketergelincirannya dan menuruti syahwatnya serta mengenal aib-aibnya kemudian terus bersungguh-sungguh untuk memperbaikinya dan beristiqomah padanya

0 komentar:

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates