Pencarian Spiritualitas

Minggu, 12 September 2010 Label: ,
Perkembangan teknologi membawa dampak langsung terhadap perilaku manusia baik di bidang ekonomi, politik maupun kebudayaan. Agama adalah 'petunjuk langit' bagi manusia untuk menjalani perannya di muka bumi.

Betapa spiritualitas, atau tasawuf, semkin mendapat perhatian dan dicari orang. Pelatihan-pelatihan ESQ-nya Ary Ginanjar, kelas eksekutifnya saja memerlukan biaya Rp 3 juta/orang, sudah mencapai angkatan ke-60, dengan rata-rata 500 peserta per angkatan. Setiap hari ada lebih 20 pelatihan ESQ digelar di seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga. Total alumni sudah mencapai 40.000 orang lebih. "Tentunya kita tahu peserta dari kelas sosial mana yang mampu membayar training Rp. 1-3 juta lebih. Ini menunjukkan orang bersedia membayar mahal untuk belajar tasawuf," ujar Ustadz Wahfiudin, Direktur Radix Training Center.

Lebih lanjut Wahfiudin mengatakan, patut juga direnungkan mengapa AA Gym dengan berbekal kitab tasawuf 'Hikam' dapat mengembangkan dakwah secara fenomenal. Terlepas dari kasus poligaminya, ia telah memperkenalkan dakwah sufistik yang mencerahkan banyak orang. Melihat jumpa para pengagumnya dapat disimpulkan bahwa sebagian besar umat Islam Indonesia sudah jenuh dengan dakwah yang bercorak ideologis politis, atau yang hanya berorientasi fiqh saja. "Orang mencari pendekatan dakwah yang menyejukkan dan menukik langsung pada perbaikan akhlak yang menenteramkan," kata Wahfiudin yang juga ketua Yayasan Aqabah Sejahtera.

Arifin Ilham, misalnya, dengan dzikir masalnya lebih mmbuktikan kehausan orang terhadap dzikir-dzikir yang menyentuh qalbu. Ia menantu dari seorang syekh di Meulaboh, Aceh. Tanpa menybut 'tarekat' ia membimbing orang mempraktekkannya, dan banyak orang mendapatkan hidayah melalui dzikir tersebut. Majelis dzikirnya bukan hanya dihadiri oleh yang muslim, juga dihadiri oleh tokoh-tokoh agama lain. "Saya sendiri punya pengalaman pribadi, pelatihan yang diberi nama Pesantren Qalbu adalah pelatihan tasawuf yang dibawakan dalam bentuk seminar/training, ini berjalan tiap 3 bulan sekali," tuturnya.

Pesantren Qalbu
Pesantren Qalbu, kata Wahfiudin, sudah mencapai angkatan ke-24, berarti sudah berlangsung 6 tahun. Pesertanya antara 60-80 orang per angkatan, terdiri dari para birokrat di Pemerintahan Kota (mulai walikota hingga camat & lurah) serta para pebisnisanggota Kadin dan para tokoh ulama/cendekiawan. Pelatihan ini pun sudah 7 kali digelar di Semarang, juga di Jakarta dalam bentuk Kursus Tasawuf sudah mencapai angkatan 15. Saat ini, ia sedang mendapat amanah untuk menyelenggarakan pelatihan sejenis bagi karyawan-karyawan sebuah bank yang pertumbuhannya paling cepat di Indonesia. Pelatihan dilakukan di seluruh cabang bank tersebut yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tasawuf Bukan Klenik
Menurutnya, dalam kajian-kajian ilmiah ada perbedaan yang jelas antara tasawuf (mysticism) dan klenik (magic). Tasawuf (Islamic Mysticism) lebih berciri pada penyucian diri, penggiatan ibadah, dan aktif dalam partisipasi sosial membangun peradaban yang indah, ilmiah dan manusiawi. sedangkan klenik (di Indonesia secara tidak tepat sering disebut 'ilmu hikmah') lebih berorientasi pada kepentingan lahiriah duniawi, tidak jarang berangkat dari keserakahan untuk dapat memiliki atau menaklukkan, dan mengabaikan sendi-sendi kehidupan yang berdasarkan kerja keras (ikhtiar) yang rasional serta jujur.

"Tentu ada beda antara orang yang melakukan riyadhah (dzikir, puasa, shalat, qiyamul lail, shadaqah) yang berangkat dari kecintaan kepada Ilahi dengan yang berangkat dari ketakutan kasus korupsinya diselidiki kejaksaan, atau sakitnya tak sembuh-sembuh, atau bisnisnya macet, atau pangkat dan karir yang tersendat, atau serakah ingin menang pemilu/pilkada, atau agar sakti dan lain-lain," tandas Wahfiudin.

Ia menerangkan, tasawuf tidak mengajarkan orang untuk malas berikhtiar untuk sukses, dengan menempuh jalan pintas yang tidak rasional namun penuh keajaiban. Tasawuf tidak mengajak orang untuk berbincang tentang karamah atau kekuatan-kekuatan supranatural untuk dapat menaklukkan orang lain, tasawuf tak menghambat orang untuk mengejar pengetahuan demi keluasan wawasan dan pemanfaatan teknologi. Karenanya tasawuf terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan kritis dan rasional serta tidak menyembunyikan ajaran-ajaran dibalik 'pamali, tabu, dan indoktrinasi'.

Sesungguhnya memang tasawuf seperti inilah yang dirindui dunia. Tapi sayangnya banyak orang-orang tasawuf yang membawakan dakwah tasawuf dengan gaya klenik, menjajakan karamah untuk imbalan yang murah, menjanjikan sukses dengan jaln pintas. Ada yang membincangkan hakikat sambil mengepul-ngepulkan asap rokok (sebuah tindakan yang menjijikan bagi dunia modern yang semakin sadar akan kesehatan diri dan kelestarian lingkungan). Rajin dzikir tapi malas belajar dan tidak menunjukkan prestasi kerja.
by m husaini
majalah dzikir edisi 16 Nov 2008


QALBUNET
Allah Membimbing Kepada Cahaya-Nya Siapa Yang Ia KehendakiAssholatu Mi'rojul Mu'mininAwwaluddin Ma'rifatullahEtika Debat dan DiskusiFITHRAH: Potensi Dasar Spiritualitas Manusia

0 komentar:

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates