Wajibkah mendirikan khilafah?

Senin, 23 Agustus 2010 Label:
1. Wajibkah mendirikan khilafah?

Tidak wajib! Yang wajib itu adalah memiliki pemimpin, yang dahulu disebutkhalifah, kini bebas saja mau disebut ketua RT, kepala suku, presiden, perdanamenteri, etc. Ada pemelintiran seakan-akan para ulama mewajibkan mendirikankhilafah, padahal arti kata "khilafah" dalam teks klasik tidak otomatisbermakna sistem pemerintahan Islam (SPI) yang dipercayai oleh para pejuangpro-khilafah.Masalah kepemimpinan ini simple saja: "Nabi mengatakan kalau kita pergibertiga, maka salah satunya harus ditunjuk jadi pemimpin". Tidak ada nash yangqat'i di al-Qur'an dan Hadis yang mewajibkan mendirikan SPI (baca: khilafahataupun negara Islam). Yang disebut "khilafah" sebagai SPI itu sebenarnyahanyalah kepemimpinan yang penuh dengan keragaman dinamika dan format. Tidakada format kepemimpinan yang baku.

2. Bukankah ada Hadis yang mengatakan khilafah itu akan berdiri lagi di akhir
zaman?

Para pejuang berdirinya khilafah percaya bahwa Nabi telah menjanjikan akandatangnya kembali khilafah di akhir jaman nanti. Mereka menyebutnya dengankhilafah 'ala minhajin nubuwwah. Ini dalil pegangan mereka:"Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya ataskehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah 'alaminhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya(menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalahmasa Kerajaan yang menggigit (Mulkan 'Adldlon), adanya atas kehendak Allah.Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya ataskehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untukmengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian(Khilafah 'ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam." (Musnad Ahmad:IV/273).Cukup dengan berpegang pada dalil di atas, para pejuang khilafah menolak semuaargumentasi rasional mengenai absurd-nya sistem khilafah. Mereka menganggapkedatangan kembali sistem khilafah adalah sebuah keniscayaan. Ada baiknya kitabahas saja dalil di atas. Salah satu rawi Hadis di atas bernama Habib binSalim. Menurut Imam Bukhari, "fihi nazhar".Inilah sebabnya imam Bukhari tidak pernah menerima hadis yang diriwayatkan olehHabib bin Salim tsb. Di samping itu, dari 9 kitab utama (kutubut tis'ah) hanyaMusnad Ahmad yang meriwayatkan hadis tsb. Sehingga "kelemahan" sanad hadis tsbtidak bisa ditolong.Rupanya Habib bin salim itu memang cukup "bermasalah." Dia membaca hadis tsb.di depan khalifah 'Umar bin Abdul Aziz untuk menjustifikasi bahwa kekhilafahan'Umar bin Abdul Aziz merupakan khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Saya mendugakuat bahwa Habib mencari muka di depan khalifah karena sebelumnya ada sejumlahhadis yang mengatakan: "Setelah kenabian akan ada khilafah 'ala minhajinnubuwwah, lalu akan muncul para raja."Hadis ini misalnya diriwayatkan oleh Thabrani (dan dari penelaahan sayaternyata sanadnya majhul). Saya duga hadis Thabrani ini muncul pada masaMu'awiyah atau Yazid sebagai akibat pertentangan politik saat itu."Khilafah 'ala minhajin nubuwwah" di teks Thabrani ini mengacu kepada khulafaal-rasyidin, lalu "raja" mengacu kepada Mu'awiyah dkk. Tapi tiba-tiba munculUmar bin Abdul Azis -dari dinasti Umayyah-yang baik dan adil. Apakah beliautermasuk "raja" yang ngawur dalam hadis tsb?Maka muncullah Habib bin Salim yang bicara di depan khalifah Umar bin AbdulAzis bahwa hadis yang beredar selama ini tidak lengkap. Menurut versi Habib,setelah periode para raja, akan muncul lagi khilafah 'ala minhajin nubuwwah-danini mengacu kepada Umar bin Abdul Azis. Jadi nuansa politik hadis ini sangatkuat.Repotnya, istilah khilafah 'ala minhajin nubuwwah yang dimaksud oleh Habib(yaitu Umar bin Abdul Azis) sekarang dipahami oleh Hizbut Tahrir (dan kelompoksejenis) sebagai jaminan akan datangnya khilafah lagi di kemudian hari. Merekapasti repot menempatkan 'Umar bin Abdul Aziz dalam urutan di atas tadi:kenabian, khilafah 'ala mihajin nubuwwah periode pertama (yaitu khulafaal-rasyidin), lalu para raja, dan khilafah 'ala minhajin nubuwwah lagi. Kalaukhilafah 'ala minhajin nubuwwah periode yang kedua baru muncul di akhir jamanmaka Umar bin Abdul Azis termasuk golongan para raja yang ngawur.Saya kira kita memang harus bersikap kritis terhadap hadis-hadis berbaupolitik. Sayangnya sikap kritis ini yang sukar ditumbuhkan di kalangan parapejuang khilafah.

3. Bukankah khilafah adalah solusi dari masalah ummat? Selama ummat Islam
mengadopsi sistem kafir (demokrasi) maka ummat Islam tidak akan pernah jaya?

Di sinilah letak perbedaannya: sistem khilafah itu dianggap sempurna, sedangkansistem lainnya (demokrasi, kapitalis, sosialis, dll) adalah buatan manusia.Kalau kita menemukan contoh "jelek" dalam sejarah Islam, maka kita buru-burubilang, "yang salah itu manusianya, bukan sistem Islamnya!". Tapi kalau kitamelihat contoh "jelek" dalam sistem lain, kita cenderung untuk bilang,"demokrasi hanya menghasilkan kekacauan!" Jadi, yang disalahkan adalahdemokrasinya. Ini namanya kita sudah menerapkan standard ganda.Biar adil, marilah kita melihat bahwa yang disebut sistem khilafah itusebenarnya merupakan sistem yang juga tidak sempurna, karena ia merupakanproduk sejarah, dimana beraneka ragam pemikiran dan praktek telah berlangsung.Sayangnya, karena dianggap sudah "sempurna" maka sistem khilafah ituseolah-olah tidak bisa direformasi. Padahal banyak sekali yang harus direformasi.Contoh: dalam sistem khilafah pemimpin itu tidak dibatasi periode jabatannya(tenure). Asalkan dia tidak melanggar syariah, dia bisa berkuasa seumur hidup.Dalam sistem demokrasi, hal ini tidak bisa diterima. Meskipun seorang pemimpintidak punya cacat moral, tapi kekuasaannya dibatasi sampai periode tertentu.Saya maklum kenapa sistem khilafah tidak membatasi jabatan khalifah. Soalnyapada tahun 1924 khilafah sudah bubar, padahal pada tahun 1933 (the 22ndAmendment) Amerika baru mulai membatasi jabatan presiden selama dua periodesaja. Sayangnya, buku tentang khilafah yang ditulis setelah tahun 1933 masihsaja tidak membatasi periode jabatan khalifah. Itulah sebabnya kita menyaksikanbahwa dalam sepanjang sejarah Islam, khalifah itu naik-turun karena wafat,dibunuh, atau dikudeta. Tidak ada khalifah yang turun karena masa jabatannyasudah habis.Contoh lainnya, sistem khilafah selalu mengulang-ulang mengenai konsep baiat(al-bay'ah) dan syura. Tapi sayang berhenti saja sampai di situ [soalnya sudahdianggap sempurna]. Dalam tradisi Barat, electoral systems itu diperdebatkandan terus "disempurnakan" dalam berbagai bentuknya. Dari mulai sistemproporsional, distrik sampai gabungan keduanya.Begitu juga dengan sistem parlemen. Dari mulai unicameral sampai bicameralsystem dibahas habis-habisan, dan perdebatan terus berlangsung untuk menentukansistem mana yang lebih bisa merepresentasikan suara rakyat dan lebih bisamenjamin tegaknya mekanisme check and balance.Tapi kalau kita mau "melihat" ke teori Barat, nanti kita dituduh terpengaruhorientalis atau terjebak pada sistem kafir. Akhirnya kita terus menerusmemelihara teori yang sudah ketinggalan kereta.

4. Kalau khilafah berdiri, maka ummat islam akan bersatu. Lantas kenapa harus
ditolak? Bukankah kita menginginkan persatuan ummat?
Sejumlah dalil mengenai persatuan ummat Islam dan kaitannya dengan khilafahbanyak dikutip oleh "pejuang khilafah" belakangan ini: Rasulullah SAW bersabda:"Jika dibai'at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya."(HR. Muslim)Bagaimana "rekaman" sejarah soal ini? Ini daftar tahun berkuasanya khilafahyang sempat saya catat:1. Ummayyah (661-750)2. Abbasiyah (750-1258)3. Umayyah II (780-1031)4. Buyids (945-1055)5. Fatimiyah (909-1171)6. Saljuk (1055-1194)7. Ayyubid (1169-1260)8. Mamluks (1250-1517)9. Ottoman (1280-1922)10. Safavid (1501-1722)11. Mughal (1526-1857)Dari daftar di atas kita ketahui bahwa selepas masa Khulafa al-Rasyidin,ternyata hanya pada masa Umayyah dan awal masa Abbasiyah saja terdapat satukhalifah untuk semua ummat Islam. Sejak tahun 909 (dimana Abbasiyah masihberkuasa) telah berdiri juga kepemimpinan ummat di Egypt oleh Fatimiyyah(bahkan pada periode Fatimiyah inilah Universitas al-Azhar Cairo dibangun).Di masa Abbasiyah, Cordova (Andalusia) juga memisahkan diri dan punyakekhalifahan sendiri (Umayyah II). Di Andalusia inilah sejarah Islam dicatatdengan tinta emas, namun pada saat yang sama terjadi kepemimpinan ganda ditubuh ummat, toh tetap dianggap sukses juga.Pada masa Fatimiyyah di Mesir (909-1171), juga berdiri kekuasaan lainnya:Buyids di Iran-Iraq (945-1055). Buyids hilang, lalu muncul Saljuk (1055-1194),sementara Fatimiyah masih berkuasa di Mesir sampai 1171. Ayubid meneruskanFatimiyyah dengan kekuasaan meliputi Mesir dan Syria (1169-1260). Danseterusnya, ... silahkan diteruskan sendiri.Jadi, sejarah menunjukkan bahwa khilafah itu tidak satu; ternyata bisa ada duaatau tiga khalifah pada saat yang bersamaan. Siapa yang dipenggal lehernya dansiapa yang memenggal? Mana yang sah dan mana yang harus dibunuh?Kita harus kritis membaca Hadis-Hadis "politik" di atas. Saya menduga kuatHadis semacam itu baru dimunculkan ketika terjadi pertentangan di kalanganummat islam sepeninggal rasul. Alih-alih bermusyawarah, seperti yangdiperintahkan Qur'an, para elit Islam tempo doeloe malah melegitimasipertempuran berdarah dengan Hadis-Hadis semacam itu.Sejumlah Ulama yang datang belakangan kemudian berusaha "mentakwil" makna Hadisdi atas. Mereka menyadari bahwa situasi sudah berubah, dan Islam sudah meluassampai ke pelosok kampung. Pernyataan Nabi di atas tidak bisa dilepaskan darikonteks traditional-state di Madinah, dimana resources, jumlah penduduk, danluas wilayah masih sangat terbatas. Cocok-kah Hadis itu diterapkan pada saatini?Berpegang teguh pada makna lahiriah Hadis di atas akan membuat darah tumpah dimana-mana. Contoh saja, karena tidak ada aturan yang jelas, maka para ulamaberdebat, seperti direkam dengan baik oleh al-Mawardi, M. Abu faris dan Wahbahal-Zuhayli: berapa orang yang dibutuhkan untuk membai'at seorang khalifah? Adayang bilang lima [karena Abu Bakr dipilih oleh 5 orang], tiga [dianalogikandengan aqad nikah dimana ada 1 wali dan 2 saksi], bahkan satu saja cukup [Alidiba'iat oleh Abbas saja]. Jadi, cukup 5 orang saja untuk membai'at khalifah.Aturan itu cocok untuk kondisi Madinah jaman dulu, namun terhitung"menggelikan" untuk jaman sekarang.Disamping itu, urusan "memenggal kepala" itu tidak lagi cocok dengan situasisekarang. Contoh: ribut-ribut jumlah suara antara Al Gore dengan Bush 4 tahunlalu diselesaikan bukan dengan putusnya leher salah satu di antara mereka.Begitu juga Gus Dur tidak bisa meminta kepala Mega dipenggal ketika Mega"merebut" kekuasaannya tempo hari. Mekanisme konstitusi yang menyelesaikansemua itu. Nah, mekanisme itu yang di jaman dulu kagak ada. Apa kita mau balikke jaman itu lagi?Akhirnya, dengan adanya catatan sejarah yang menunjukkan bahwa terdapatbeberapa khalifah dalam masa yang sama, di wilayah yang berbeda. Hadis politikdi atas sudah tidak cocok lagi diterapkan.

5. Jawaban anda sebelumnya seolah-olah hendak mengatakan bahwa berdirinya
khilafah justru akan menimbulkan pertumpahan darah sesama ummat islam, bukanmenghadirkan persatuan seperti yang didengungkan para pejuang khilafah saatini. Betulkah demikian? Benarkah sejarah khilafah menunjukkan pertumpahan darah
tersebut?
Ketika Bani Abbasiyah merebut khilafah, darah tertumpah di mana-mana. Ini"rekaman" kejadiannya:Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukotaBani Umayyah, dan mereka "memainkan" pedangnya di kalangan penduduk, sehinggamembunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami' milik Bani Umayyah,mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan merekamenggali kembali kuburan Mu'awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketikamendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanyadengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyakselama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya.Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudianmenghamparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagiannya masihmenggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. Merekajuga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah danmenggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuangmereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing.Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segeramengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudianmengumumkan di kalangan rakyat: "Barangsiapa memasuki masjid Jami', maka iadijamin keamanannya." Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid,kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid danmenghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyaksebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahyamendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hariitu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak,sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknyadan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikitpun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkanseorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.Seorang ahli fiqh terkenal di Khurasn bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepadakaum Abbasiyin yang telah berjanji "akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuaidengan al-Qur'an dan Sunnah". Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yangberkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan ituberlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani. Namun ketika ia,setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu, menuntut kepada Abu Muslim agarmenegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggarkitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.Cerita di atas bukan karangan orientalis tapi bisa dibaca di Ibn Atsir, jilid4, h. 333-340, al-Bidayah, jilid 10, h. 345; Ibn Khaldun, jilid 3, h. 132-133;al-Bidayah, jilid 10, h. 68; al-Thabari, jilid 6, h. 107-109. Buku-buku iniyang menjadi rujukan Abul A'la al-Maududi ketika menceritakan ulang kisah diatas dalam al-Khilafah wa al-Mulk.Note:Yang jelas sejarah "buruk" kekhilafahan bukan hanya milik khalifah Abbasiyah,tapi juga terjadi di masa Umayyah (sebelum Abbasiyah) dan sesudah Abbasiyah.Misalnya, menurut al-Maududi, dalam periode khilafah pasca khulafatur rasyidintelah terjadi: perubahan aturan pengangkatan khalifah seperti yang dipraktekkansebelumnya, perubahan cara hidup para khalifah, perubahan kondisi baitul mal,hilangnya kemerdekaan mengeluarkan pendapat, hilangnya kebebasan peradilan,berakhirnya pemerintah berdasarkan syura, munculnya kefanatikan kesukuan, danhilangnya kekuasaan hukum.Sejarah itu seperti cermin: ada yang baik dan ada yang buruk. Kita harusmenyikapinya secara proporsional; jangan "buruk muka, cermin dibelah. Sengajasaya tampilkan sisi buruknya agar kita tidak hidup dalam angan-angan ataunostalgia masa lalu saja, tanpa mengetahui sisi buruk masa lalu itu.Ada kesan bahwa dengan menjadikan "khilafah is the (only) solution" maka kitamelupakan bahwa sebenarnya banyak kisah kelam (sebagaimana juga banyak kisah"keemasan") dalam masa kekhilafahan itu. Jadi, mendirikan kembali khilafahtidak berarti semua problem akan hilang dan lenyap; mungkin kehidupan tanpaproblem itu hanya ada di surga saja.
6. Ada sejumlah kewajiban yang pelaksanaannya tidak terletak di tangan individurakyat. Di antaranya adalah pelaksanaan hudûd, jihad fi sabilillah untukmeninggikan kalimat Allah, mengumpulkan zakat dan mendistribusikannya, danseterusnya. Sejumlah kewajiban syariat ini bergantung pada pengangkatanKhalifah. Bukankah di sinilah letak urgensinya kita mendirikan khilafah?
Cara berpikir anda itu masih menganggap khilafah itu sama dengan sebuah sistempemerintahan Islam [SPI], padahal hadis-hadis yang menyinggung soal khilafahitu hanya bicara mengenai pentingnya mengangkat pemimpin (dan sekarang semuanegara punya pemimpin kan?).Kalau pertanyaannya saya tulis ulang: bukankah sebagian pelaksanaan syariatislam membutuhkan campur tangan pemimpin? Jawabannya benar,dan itulah yangsudah dilakukan di sejumlah negara: misalnya memungut zakat, memberangkatkanjamaah pergi haji, membuat peradilan Islam (mahkamah syariah), menentukan 1Ramadan dan 1 Syawal, dst. Jadi, syariat Islam sudah bisa berjalan saat initanpa harus ada khilafah.Lha wong kita sholat, puasa, sekolah, makan, bekerja, menikah, dst. adalahbagian dari syariat Islam dan kita bisa menjalaninya meski tidak ada khilafahdalam arti SPI. Kita menjalaninya karena pemimpin kita membebaskan kitamelakukan itu semua. Kita tidak dilarang menjalankannya.
Di Saudi Arabia, tanpa ada khilafah sekalipun hukuman potongan tangan (hudud)sudah diberlakukan. Bukan berarti saya setuju dengan penerapan hudud ini. Sayahanya ingin menunjukkan tanpa khilafah (baca: SPI) maka syariat Islam juga bisa diterapkan.

7. Apa lagi letak keberatan anda terhadap ide mendirikan khilafah?
Kalau khilafah berdiri maka dunia ini tidak akan damai. Perang terus menerus.Para pejuang khilafah menerima saja mentah-mentah Hadis yang mengungkapkan 3langkah dalam berurusan dengan non-muslim:1. Ajak mereka masuk Islam2. Kalau mereka enggan, suruh mereka bayar jizyah3. Kalau enggan masuk Islam dan enggan bayar jizyah, maka perangilah mereka.Kalau Indonesia sekarang berubah menjadi khilafah, maka Singapora, Thailand,Philipina dan Australia akan diajak masuk Islam, atau bayar jizyah, ataudiperangi. Masya Allah!Simak cerita Dr. Jeffrey Lang di bawah ini (yang diceritakan ulang oleh DrJalaluddin Rakhmat):Kira-kira dua bulan setelah saya masuk Islam, mahasiswa-mahasiswa Islam diuniversitas tempat saya mengajar mulai mengadakan pengajian setiap Jum'at malamdi masjid universitas. Ceramah kedua disampaikan oleh Hisyam, seorang mahasiswakedokteran yang sangat cerdas yang telah belajar di Amerika selama hampirsepuluh tahun. Saya sangat menyukai dan menghormati Hisyam. Dia berbadan agakbulat dan periang, dan mukanya tampak sangat ramah. Dia juga mahasiswa Islam yangsangat bersemangat.Malam itu Hisyam berbicara tentang tugas dan tanggungjawab seorang Muslim. Diaberbicara panjang lebar tentang ibadah dan kewajiban etika orang yang beriman.Ceramahnya sangat menyentuh dan telah berjalan kira-kira satu jam ketika diamenutupnya dengan ucapan yang tidakdisangka- sangka berikut ini."Akhirnya, kita tidak dapat lupa –dan ini benar-benar penting– bahwa sebagaiorang Muslim, kita wajib untuk merindukan, dan ketika mungkin berpartisipasi didalamnya, yakni menggulingkan pemerintah yang tidak Islami –di mana pun didunia ini– dan menggantinya dengan pemerintahan Islam.""Hisyam!" Saya mencela. "Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa warga negaraMuslim Amerika harus melibatkan diri dalam penghancuran pemerintah Amerika? Sehinggamereka harus menjadi pasukan kelima di Amerika; suatu gerakan revolusionerbawah tanah yang berusaha untuk menggulingkan pemerintah? Apakah yang kamumaksudkan adalah jika seorang Amerika masuk Islam, dia harus melibatkan diridalam pengkhianatan politik?"Saya berfikir begitu dengan maksud memberikan Hisyam suatu skenario yang sangatekstrem, sehingga dapat memaksanya untuk melunakkan atau mengubahpernyataannya. Dia menundukkan pandangannya ke lantai sementara dia merenungipertanyaan saya sebentar. Kemudian dia menatap saya dengan suatu ekspresi yangmengingatkan saya terhadap seorang doktor yang hendak menyampaikan khabarkepada pesakitnya bahwa tumornya adalah tumor berbahaya. "Ya," dia berkata,"Ya, itu benar."Dr. Jeffrey Lang, muslim Amerika yang juga profesor matematik di UniversitasKansas, menceritakan pengalaman di atas untuk menunjukkan betapa "absurdnya"gagasan mendirikan negara Islam bagi orang Islam di Amerika. "Bagi mereka, idebahwa kaum Muslim –menurut agama mereka– berkewajiban untuk menyerangnegara-negara yang tidak agresif seperti Swiss, Brazil, Ekuador atau jikamereka tidak mau tunduk kepada Islam sangat tidak masuk akal," kata Dr. Langselanjutnya.Anehnya, di mana saja Dr. Lang menemukan wacana negara Islam ini dikemukakan, baikdi meja diskusi ilmiah maupun di medan perang.Sekian kutipan dari Dr Jeffrey Lang.Kalau kita sekarang nggak suka dengan doktrin pre-emptive strikenya Bush, makasebenarnya kalau sekarang khilafah berdiri, maka khilafah itu juga memilikidoktrin yang sama. Sungguh mengerikan.Hadis di atas telah diplintir maknanya sedemikian rupa sehingga khilafah akanmenjadi monster yang memaksa negara sekitarnya untuk memeluk Islam dengan caradiperangi. Inilah salah satu keberatan saya dengan ide mendirikan kembalikhilafah.

8. Saya heran dengan anda. CIA saja sudah bisa memprediksi bahwa khilafah akanberdiri pada tahun 2020. Kalau musuh-musuh Islam saja percaya dengan hal ini,bagaimana mungkin anda sebagai Muslim malah tidak mendukung berdirinya
khilafah?
Biar nggak Ge-Er, kawan-kawan yang pro-khilafah coba baca baik-baik laporanlengkapnya di sini: http://www.foia.cia.gov/2020/2020.pdf.Intinya, CIA membuat 4 skenario FIKTIF sbg gambaran situasi tahun 2020. Khilafahitu hanya satu dari empat skenario fiktif tsb. Jadi jangan diplintirseolah-olah CIA mengatakan khilafah akan berdiri tahun 2020.Possible FuturesIn this era of great flux, we see several ways in which major global changescould take shape in the next 15 years, from seriously challenging thenation-state system to establishing a more robust and inclusive globalization.In the body of this paper we develop these concepts in four fictional scenarioswhich were extrapolated from the key trends we discuss in this report. Thesescenarios are not meant as actual forecasts, but they describe possible worldsupon whose threshold we may be entering, depending on how trends interweave andplay out:1. "Davos World" illustrating "how robust economic growth, led by China andIndia, could reshape the globalization process";2. "Pax Americana" "how US predominance may survive the radical changes to theglobal political landscape and serve to fashion a new and inclusive globalorder";3. "A New Caliphate" "how a global movement fueled by radical religiousidentity politics could constitute a challenge to Western norms and values asthe foundation of the global system"; and4. "Cycle of Fear" proliferation of weaponry and terrorism "to the point thatlarge-scale intrusive security measures are taken to prevent outbreaks ofdeadly attacks, possibly introducing an Orwellian world."(The quotes are taken from the report's executive summary.)Of course, these scenarios illustrate just a few of the possible futures thatmay develop over the next 15 years, but the wide range of possibilities we canimagine suggests that this period will be characterized by increased flux,particularly in contrast to the relative stasis of the Cold War era. Thescenarios are not mutually exclusive: we may see two or three of thesescenarios unfold in some combination or a wide range of other scenarios.Yang menarik, laporan itu juga menyebut-nyebut soal Indonesia. Ini prediksimereka:"The economies of other developing countries, such as Brazil, could surpass allbut the largest European countries by 2020; Indonesia's economy could alsoapproach the economies of individual European countries by 2020."Lalu apa yang akan terjadi dengan Amerika, masih menurut laporan tersebut:"Although the challenges ahead will be daunting, the United States will retainenormous advantages, playing a pivotal role across the broad range of issues–economic, technological, political,and military– that no other state willmatch by 2020."Jadi, dari skenario fiktif yang mereka susun, Amerika tetap saja jaya. KerjaanCIA kan ya memang begitu...kok bisa-bisanya kawan-kawan pejuang pro-khilafahpercaya sama CIA. Bukankah prestasi terbesar CIA adalah saat mengatakan di Iraqada weapon of mass destruction (WMD)?Kita tahu ternyata WMD memang fiktif belaka. Yah jangan-jangan khilafah juga
bakalan bernasib sama: fiktif.

by Abu Zein Fardany


 http://www.facebook.com/photo.php?pid=320770&id=100000603563657&ref=notif&notif_t=photo_reply#!/note.php?note_id=128271097219261&id=1847712057&ref=mf

1 komentar:

insidewinme mengatakan...

Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates