Otak Kanan & Pakailah Otak

Minggu, 11 Juli 2010 Label:
SENIN, 2 Juni 2008, pukul 15.30 di Plaza Indonesia, Jl Thamrin,Jakarta Pusat. Di bagian kanan super market Food Hall di lower ground, itu sebuah kedai donat Khrispy Kreme, sebagaimana hari biasa, sepi pengunjung. Dari jauh saya perhatikan ada sosok pria berkamacata duduk sendiri. Saya langsung menduga dialah sosok yang ingin saya jumpai. Baru kali itu kami bertemu. Tiga hari sebelumnya hanya ber-sms. Benar saja, AM Rukky Santoso, penulis lima buah buku; tiga tentang Right Brain (otak kanan), Brain Booster dan Body Approach, memang sudah menunggu.

Dari menulis lima buah buku, Rukky - - begitu ia akrab disapa - - kini bisa menyekolahkan dua anaknya di luar negeri, satu di Australia dan satu di Singapura. “Anda kan tahu bahwa royalty menulis buku kecil, hanya sepuluh persen dari buku yang terjual dan dibayarkan enam bulan sekali, tetapi sebaliknya saya sangat yakin menulis buku bisa kaya,” tuturnya. Dan keyakinan Rukky bukan sebatas kata.

Beberapa wanita, ibu-ibu muda berkulit bersih, tampak keluar masuk super market menenteng belanjaan. Secangkir kopi hitam, masih penuh di depan Rukky.

Lahir di Semarang, 3 Februari 1955. Hingga SMA ia menetap di kotanya. Selanjutnya ia mara ke Jakarta bersekolah dan bekerja. Perhatiannya besar kepada dunia seni.

Kesulitan ekonomi membuat sekolahnya kandas. Satu-satunya pilihan bekerja. Gawean pertama membawanya ke dunia seni; dunia film, produksi layar lebar. Berbagai pekerjaan di dunia film dijalaninya mulai dari pembantu umum, menata set, dekorasi, melukis poster film, dan terakhir art director.

Karirnya berlanjut beralih ke bidang periklanan dan pemasaran, hingga mencapai posisi manajer di PT Unilever Indonesia Tbk. Di saat karir puncak di perusahaan consumer good papan atas itu, datang tawaran dari perusahaan rokok, untuk menjabat senior manajer di bidang marketing, dengan income berlipat-lipat.

Posisi tinggi dan gaji besar di perusahaan keluarga itu, tidak membuat Rukky betah. Setelah tiga tahun bekerja, mendadak ia berbulat tekad keluar dan berusaha sendiri. “Yang kami jual kan sesungguhnya candu, rokok. Saya memberi makan keluarga dengan merampas hak hidup orang lain, dari menjejali racun” Rukky beralasan.

Ia memilih mencoba berusaha mencari pekerjaan lain.. Isterinya menangis. Berbagai fasilitas kantor tentu tak ada lagi. Rukky berkeyakinan mencari pekerjaan baru gampang. “Ternyata hingga enam bulan kemudian saya masih pengangguran,” katanya.

Suatu pagi ketika memberi makan anjing dan kucing. Pria penggemar hewan ini berpikir. Makanan anjing dan kucingnya impor. Terlintas di benaknya mengapa tidak ada pakan lokal? Ia membaca di koran bahwa, impor makanan anjing dan kucing mencapai puluhan miliar pertahun.

Rukky menelepon kenalannya di Institut Pertanian Bogor. Ia menanyakan bagaimana untuk mengetahui makanan anjing dan kucing yang baik. Hari itu itu juga berbekal bungkusan kotoran anjing dan kucingnya, Rukky ke Bogor ke laboratotium. “Saya menjadi paham, bahwa dari hasil lab, anjing dan kucing tidak membutuhkan karbohidrat, tetapi mereka butuh protein tinggi, mencapai tiga puluh lima persen, juga calsium tinggi, ” tuturnya.

Pada saat krisis ekonomi 1997 itu Rukky mulai mengolah ikan teri Medan, mencampur dengan tepung kedele, dedak - - ampas tumbukan beras. Ia lalu membeli ikan Runcah di bilangan Pelabuhan Ratu. Ramuan utama itu digiling, dicampur, laksana membuat adonan kue kering. Adonan matang dicetak menggunakan kaleng yang sudah dibentuk, persis macam cetakan kue kering (cookies), dimasukkan ke oven dan jadilah aneka pakan anjing dan kucing versi Rukky.

“Modal saya hanya lima ribu rupiah perkilogram,” ujarnya. Rukky menjual Rp 17,500/kg. Sementara pasaran makanan anjing dan kucing kala itu sudah mencapai Rp 25.000. Door to door ia memasarkan ke kawasan tinggalnya di bilangana Kelapa Gading, Jakarta Timur. Dalam tempo singkat Rukky bisa mendapatkan untung Rp 50 juta/bulan.

Ia mencatat sejarah sebagai produsen pakan anjing dan kucing pertama di Indonesia.

“Kemudian order berdatangan, ada pula yang minta pakan ikan.”

Namun karena hanya berusaha rumahan, kapasitas produksi sulit ditingkatkan. Kendati penghargaan dari Departemen Koperasi dan Usaha Kecil, memberi pernghargaan, usaha itu tidak melangkah ke industri lebih besar.

Dengan kondisi ekonomi yang lebih dari cukup dari berbisnis makanan hewan itu, pada 2000, Rukky mulailah merambah dunia tulis-menulis. Ia seakan tersadarkan, dari membaca kiri-kanan, bertanya ke berbagai pakar, berkeyakinan kemampuan otak manusia luar biasa belum dioptimal maksimal.

Maka pada 2000 itu, lahirlah buku Right Brain. Ia mencoba meyakinkan pihak Toko Buku Gramedia, bahwa buku bisa laku cepat jika dijual dengan cara proaktif. “Saya meminta kesempatan untuk disediakan waktu bagi saya di toko-toko mempresentasikan ihwal buku yang saya tulis” ujarnya.

Ternyata kiat itu jitu. Di saat Rukky usai berpresentasi, puluhan buku dibeli orang. Saya pikir ide ini laksana tukang obat di kampung-kampung, setelah berkicau, berpetuah dan mancaragam celoteh, usai itu sang pedagang obat menjajalkan dagangan. Langkah ini ia terapkan dalam menjual buku. Bukunya laris manis.

Buku pertama berlanjut ke buku ke dua dan seterusnya mencapai lima buah, hingga 2008. Tak hanya berhenti di buku, pelatihan mengoptimalkan otak kanan pun mulai bergulir. Bahkan di saat Kyai AA Gym masih berkibar, training otak kanan yang diselenggarakan Rukky, bersebelahan letaknya dengan kawasan pesentren AA. Gym, banyak jamah AA Gym yang turut mengikuti pelatihannya. “Untuk memahami manajemen qolbu, maka seseorang harus paham berbagai kelenjar yang ada di dalam tubuhnya,” ujar Rukky berpetuah.

Memang setelah mengoptimalkan otak kanan, mengaktifkan 70 kecerdesan yang ada di dalam otak - - 35 di otak kiri dan 35 di kanan - - Rukky menulis ihwal kelenjar yang ada di tubuh manusia.

Ia seakan berpetuah kepada saya, untuk berbuat terhadap orang lain, seseorang tentu harus tahu dan mengoptimalkan apa yang ada di dirinya sendiri terlebih dahulu. Bagaikan tag line iklan sebuah produk rokok, Rukky seakan mengatakan bahwa manusia itu makluk sempurna, memang bukan basa-basi.

Persoalan, apakah kesempurnaan itu sudah dioptimalkan?

Kini dari sebulan harinya, sepekan ia habiskan di Singapura. “Saya diminta oleh rumah sakit Mount Elizabeth untuk memberikan terapi kepada penderita kanker,” ujarnya pula, “Ternyata dokter di Singapura menemukan bahwa penyakit kanker, ada korelasinya dengan kejiwaan.”

MINGGU 31, Juni 2008, sehari sebelum saya berjumpa Rukky, terjadi aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok massa yang mengatas-namakan agama di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Ada pihak yang diserang dan ada pihak yang menyerang. Di dalam tulisan ini saya memilih tidak menulis nama masing-masing pihak.

Saya lebih memilih untuk mengatakan bila melihat semua laku, termasuk liputan media ihwal peristiwa yang terjadi, bahwa insan-insan yang terlibat, telah merendahkan derajatnya masing-masing, telah menistakan diri, karena tidak lagi menghargai 70 kecerdasan yang ada di dalam otak kiri dan otak kanan manusia, insan sempurna, yang diciptakan Sang Maha Pencipta.

Saya memahami, derajat keimanan, urusan ketuhanan, adalah sisi yang sangat pribadi dari sosok manusia. Karenya saya lebih mengangkat urusan, bahwa jika ada pelecehan terhadap sesama, lebih-lebih urusan agama, saya dengan lantang mengatakan bahwa yang bersangkutan memang belum memakai otaknya, dan atau belum mengoptimalkannya.

Di dalam bukunya Rukky menyebut Right Cerebral Hemisphere adalah bagian belahan otak kanan yang selama ini tidak dikenal, atau lebih tepatnya tidak dipedulikan, peranannya di dalam berpikir dan pengaruhnya dalam hidup sehari-hari.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa bagian itu hanyalah bagian yang dimanfaatkan oleh para seniman di dalam berkarya mengolah kreativitas. Ternyata fungsinya tidak hanya itu. Ketika orang mengaktifkan dan mendayagunakan otak kanannya, kualitas hidupnya, fisik dan psikis, ikut meningkat.

Agaknya, pemahaman akan fungsi otak secara umum itu, layak pula dipahami semua umat.

Saya hanya heran, sebagai umat muslim, ajaran pertama Nabi Muhammad adalah iqra, membaca. Ternyata, di kemudian hari, di Indonesia kini, umat tidak iqra, tidak membaca. Mereka kufur nikmat kecerdasan otak, seakan lebih memilih laku bagaikan sekawanan beruk di tengah hutan. Mungkin demikian to the point-nya.

Iwan Piliang,
presstalk.infoSUMBER ARTIKEL : enlightenment.multiply.com/journal/item/530

0 komentar:

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates