Law Of Attraction

Jumat, 09 Juli 2010 Label:
Sekitar 3 bulan yang lalu... tepatnya setelah akhir bulan Ramadhan tahun lalu, dalam keadaan setengah depresi dan setengah berharap ada mobil yang menabrak saya saat itu, saya main ke toko buku. Waktu itu hari Jum’at, dan setelah sholat Jum’at saya sedang malas pulang. Berlama-lama di Mesjid kemudian juga tidak terlalu nyaman karena ramainya orang berjualan di pelataran Mesjid membuat saya pusing. Alhasil, toko buku di seberang Mesjid menjadi pelarian.

Dalam keadaan kalut seperti itu, apalagi setelah sholat dan menumpahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita, pergi ke toko buku memang menyenangkan. Sedikit banyak, Anda bisa berharap langsung menemukan jawaban yang anda cari dalam doa-doa Anda itu di toko buku. Naif memang. Berharap terlalu banyak? Yaaaaah, bisa saja. Tapi toh tidak ada ruginya kan?

Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Di toko buku itu ternyata sedang promosi besar-besaran buku “The Secret” karya Rhonda Byrne. Buku ini sebenarnya sejak lama sudah direkomendasikan oleh seorang teman untuk saya baca. Tapi, sejujurnya, saya tidak terlalu menyenangi buku-buku semacam ini. Maksud saya, buku yang mengatakan kita harus begini begitu, tidak boleh begitu begini, kalau bisa harus begene begono.

Yah, tapi dasar orang lagi linglung. Akhirnya saya ambil juga satu buku kecil yang mahal itu. Baca-baca sinopsisnya sebentar, ternyata tentang hukum ketertarikan (law of attraction). “Bukan barang baru”, pikir saya, mengingat hukum alam yang satu ini sudah sering saya dengar dari (what so called) pepatah-pepatah bijak di berbagai buku. Tapi harus diakui, menjadikan sesuatu yang tidak baru menjadi sesuatu yang diburu banyak orang saat ini tentu bukan perkara mudah. Tentu ada sesuatu yang istimewa di buku ini. Entah penyajiannya, entah cara penulisnya meyakinkan pembaca, entah strategi pemasarannya, entah apa. Toh, akhirnya dibeli juga. Apalagi, meskipun hukum ketertarikan bukan sebuah barang baru, sebenarnya pertanyaannya adalah apakah hukum itu sudah pernah dipergunakan sebelumnya. Begitu bukan?

Satu hal lagi yang menarik di toko buku itu adalah.... mendadak buku yang bercerita tentang hukum ketertarikan seperti itu jadi sangat banyak. Dengan berbagai judul. Lucu juga. Ada judul “Mestakung (Semesta Mendukung)” dari Yohanes Surya, ada judul “Hukum Ketertarikan” yang entah karangan siapa, dan macam-macam judul lain. Wajar sepertinya kalau ada buku yang laris manis lantas banyak yang niru temanya ya? Masih ingat fenomena novel “Ayat-Ayat Cinta” dulu? Karena laku keras bak kacang goreng, tiba-tiba novel-novel dengan tema yang dimirip-miripkan mendadak muncul. Bukan cuma temanya. Bahkan nama pengarangnya dibuat mirip. Covernya juga. Setting bukunya juga. Pokonya semua harus serba mirip. Maka jadilah, fenomena “cerita cinta utopis yang tokoh-tokohnya soleh tetapi ceritanya sebenarnya sama saja dengan AADC” langsung mewabah.

Kembali pada buku The Secret yang saya beli tadi. Jadi ada 2 faktor yang menyebabkan buku itu hampir tak bisa lepas dari buku saya selama beberapa hari. Pertama, ternyata cara penyajian dan cara penulisannya memang menarik. Si penulis mampu menyerap berbagai sumber dan menyajikannya sebagai satu kesatuan yang mendukung tema utama. Menarik. Yang kedua, sejujurnya, waktu itu saya memang tidak punya pilihan lain (masih inget soal keputus-asaan yang melatarbelakangi pembelian buku ini kan?).

Inti yang dibicarakan sebenarnya sederhana saja. Untuk meraih sesuatu, Anda harus meyakini sesuatu itu akan terjadi. Disinilah pentingnya kemudian mengatur apa yang ada dalam pikiran Anda, karena pikiran Anda adalah magnet bagi semesta. Dengan kata lain, apa yang Anda pikirkan, akan Anda yakini. Dan apa yang Anda yakini, itulah yang akan terjadi. Alam semesta akan mewujudkannya untuk Anda. Tapi hati-hati, ini berlaku untuk hal-hal yang (menurut Anda) baik, maupun buruk. Jadi, baik atau buruknya hal yang menimpa Anda, konon katanya, itu karena Anda sendirilah yang menariknya. Buku ini kemudian mengajak Anda untuk selalu berpikir positif. Bukan apa-apa, sekedar supaya yang mengikutinya dalam kehidupan Anda juga hal-hal yang positif.

Sekarang, apakah itu terjadi untuk segala hal?

Bagaimana lantas kita memasukkan “Kehendak Tuhan” misalnya, kalau hukum ketertarikan itu memang benar?

Yang menarik, setelah bertanya seperti itu, yang terngiang dalam telinga saya justru adalah perkataan “Aku adalah seperti persangkaan hamba-hambaKu”. Makanya kita harus selalu berprasangka baik pada Tuhan. Eh, begitu bukan? Hmmmm.... sepertinya saya tidak akan terlalu memperpanjang yang satu ini. Silakan para pembaca berkelana sendiri-sendiri untuk mencari pemahaman yang sesuai untuk Anda =)

Yah, meski begitu, bukan Awan namanya kalau tidak skeptik (skeptis kok bangga?=p). Muncul niatan saya untuk menguji hukum ini. Sekali lagi, sepertinya tidak ada ruginya.


Kebetulan pada waktu itu, saya sedang kehilangan sebuah buku. Sudah dicari-cari di rumah tidak ada. Di tas juga. Di kantor apalagi. Buku itu kecil, berwarna ungu, seharga 5000 rupiah yang saya beli pada pertengahan bulan Ramadhan. Sebenarnya kalau saya beli lagi juga tidak masalah. Tapi, namanya juga nyoba...

Saya niatkan, saya gambarkan buku itu dalam pikiran saya, saya yakini bahwa buku itu akan saya temukan kembali suatu saat nanti. Saya tuliskan bahwa buku itu akan saya temukan. Dan dalam kepala saya, saya anggap buku itu tidak pernah hilang. Anda tahu apa yang terjadi beberapa hari setelahnya?

Yap! Benar! Buku itu tidak saya temukan. Beberapa minggu setelahnya? Masih juga belum ketemu. Oke, pikir saya, mari kita lupakan dan biarkan saja akan ketemu kapan. Tapi tetap saya yakin, buku itu akan saya temukan, suatu saat nanti.

Beberapa minggu setelah membeli buku itu, sebuah peristiwa kembali mengingatkan saya akan hukum ketertarikan. Waktu itu hari Sabtu, saya sedang mengendarai motor di Bandung. Di daerah Pasteur, saya menyaksikan sebuah kecelakaan tepat di depan mata saya. Seorang wanita yang sedang mengendarai motor tertabrak oleh truk yang sedang melintas kencang, tepat di depan saya. Saya bersama seorang pengendara motor lainnya langsung berhenti dan menggotong wanita itu ke pinggir jalan, dibantu oleh seorang polisi. Kelanjutannya saya tidak tahu karena wanita itu langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dalam keadaan pingsan.

Bukan apa-apa, tapi ekspresi shock wanita tadi terus membayang di pikiran saya ketika itu. Hingga beberapa waktu, sy kerap merasa khawatir kalau kejadian seperti itu menimpa orang-orang yang saya sayangi. Apalagi pada sore harinya, saya ketahui kalau ternyata seorang tetangga kosan saya yang sering membantu-bantu kami di kosan juga baru saja kecelakaan motor bersama suaminya ketika akan pulang ke Bandung dari Garut.

Hari Seninnya, ketika saya sudah di Jakarta lagi, saya baru mengetahui kalau pada hari Minggu seorang teman kantor saya juga kecelakaan motor. Dia jatuh karena ngebut di waktu hujan dan jalannya licin. Tak ayal, kejadian tabrakan dan kecelakaan motor menjadi bahan pikiran saya terus menerus, dan menjadi bahan obrolan bersama teman-teman.
Pada hari Selasa sore, saya berjalan bersama seorang teman menuju kantor. Bahan obrolannya, masih seputar kecelakaan motor juga. Kemudian, tepat ketika menyeberang jalan pada pertigaan terakhir sebelum sampai di kantor, dan kami baru selesai ngobrol, tiba-tiba sebuah motor berbelok dengan kecepatan agak tinggi. Waktu itu gerimis dan jalan agak licin. Kebetulan teman saya berada di sebelah kiri saya, sementara motor datang dari arah kanan. Selama sepersekian detik saya melihat motor itu oleng berusaha menghindari kami. Dalam sepersekian detik itu juga saya tahu motor itu tidak akan berhasil. Teman saya sempat menghindar, tetapi motor itu terlalu dekat dengan saya. Motor itu jatuh, lalu menabrak saya.

Yap, benar sekali saudara pembaca sekalian. Akhirnya saya tertabrak motor. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Tapi kasihan juga si pengendara motor itu, langsung dimarahi oleh seorang petugas yang kebetulan berada di dekat situ. Pasalnya, kami menyeberang di zebra-cross, dan ketika itu si motor memang berbelok dengan cepat. Kurang hati-hati.
Beberapa saat kemudian saya baru menyadari... menarik juga hukum ketertarikan ini.
Tapi yah, bisa jadi hal ini tidak berlaku untuk semua hal. Atau sebenarnya berlaku tapi kitanya yang kurang sabar.

Pada pertengahan bulan Desember, saya ingat ketika itu saya kembali sedang dilanda kebingungan dan kekalutan. Masalah pekerjaan, masalah impian, cita-cita, dan sebagainya.

Pada saat itu, seorang kerabat jauh datang berkunjung. Sebenarnya masih terhitung paman saya, tapi silsilah keluarganya agak jauh. Karena sedang tidak bersemangat, saya lebih memilih untuk berada di kamar dan membiarkan paman saya itu mengobrol dengan kakak dan ibu saya.

Tidak saya sangka, setelah sholat Maghrib, paman saya itu datang ke kamar saya, dan melihat-lihat tumpukan buku-buku saya. Setelah meminta izin meminjam sebuah buku, paman saya itu mengambil sebuah buku lain yang tidak pernah saya baca lagi. Sebenarnya buku itu sangat menarik, akan tetapi tulisannya yang kecil-kecil dan ukuran bukunya yang besar serta sangat tebal membuat saya jiper untuk menamatkannya.

Paman saya mendekati saya, mengobrol, sambil membuka-buka buku itu. Kemudian, tanpa saya sangka, paman saya itu tiba-tiba berkata bahwa ada sesuatu yang terselip pada buku itu. Ketika kami buka, ternyata yang terselip adalah... sebuah buku kecil berwarna ungu yang saya beli dengan harga 5000 rupiah pada bulan Ramadhan. Ya! Buku itu akhirnya kembali pada saya. Dan selama ini ternyata ada di kamar saya sendiri. Seperti tidak pernah hilang.

Ya, bukan berarti bahwa buku tersebut kembali karena hukum ketertarikan. Tapi memang menarik bahwa kedua kasus itu berbeda dalam hal waktu dan intensitas. Kasus kecelakaan motor terjadi dalam jangka waktu yang cepat setelah terus menerus berada dalam pikiran saya. Kasus penemuan kembali buku ungu tadi malah sebaliknya, terjadi setelah lebih dari dua bulan dan sejujurnya sudah tidak pernah saya pikirkan lagi. Bahkan sudah saya ikhlaskan kalau memang hilang.

Bagaimana menurut Anda?

Untuk saya sendiri, sebenarnya cukup banyak kasus keinginan yang berujung kekecewaan dalam hampir 26 tahun hidup saya ini, dan lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa hukum ketertarikan itu mungkin tidak selamanya berlaku. Akan tetapi, kalau dipikir lagi, cukup banyak juga kasus keinginan yang berujung kegembiraan untuk membuktikan bahwa kita bisa meraih sesuatu kalau kita yakini itu. Tentu saja, akan menjadi konyol apabila kita hanya mengharapkan suatu mimpi bisa terwujud tanpa kita sendiri mengusahakannya. Meski terkadang, ada kondisi-kondisi yang sedemikian kompleksnya hingga membuat pilihan kita satu-satunya memang hanya pasrah padaNya.

Yang jelas, dua kasus yang saya alami tadi tetap akan terlalu absurd untuk dijadikan patokan apakah suatu hukum itu relevan atau tidak. Akan tetapi, keduanya terjadi pada saat saya sedang jatuh. Cukup untuk seolah mendengar Tuhan sedang berkata pada saya bahwa... dalam kondisi apapun, selalu masih ada ruang untuk memiliki harapan.

NB : Kamu ingat malam-malam itu? Malam-malam ketika kita berbagi mimpi? Maaf, maaf, saya masih meyakininya... saya tidak punya pilihan lain. Saya akan meyakini mimpi itu, sampai Tuhan mengizinkannya terwujud, atau sampai waktu saya di dunia ini sudah habis. Entah mana yang lebih dulu terjadi.


@awandiga.blogspot.com/2008/01/hukum-ketertarikan.html

0 komentar:

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates