Hipnotis dan NLP : Dari Penyembuh Fobia, Percepatan Belajar hingga Kesaktian

Senin, 05 Juli 2010 Label:
Seperti diketahui bahwa belakangan training tentang hipnotis, yang biasanya diembel-embeli istilah NLP, atau sebaliknya, seolah tak ada jenuhnya diiklankan di berbagai media cetak. Bila disimak hampir setiap hari ada saja koran atau majalah yang memuat iklan tentang seminar hipnotis dan NLP ini.

NLP dan Perkembangannya
Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia. Kadang disebut sebagai people skill technology atau juga psychology of exellence. Prinsipnya adalah bagaimana mempelajari cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan dan bukan menjadi budaknya.

Sedangkan penggagas NLP–Richard Bandler yang pakar matematika dan programming komputer dan John Grinder yang profesor linguistik–merumuskan NLP sebagai the study of subjective experience. Keduanya mengembangkan dasar-dasar ilmu dan teknis penerapannya sejak tahun 1970-an.

Neuro merujuk pada otak atau pikiran dan bagaimana orang mengorganisasikan kehidupan mentalnya. Lingusitic tentang bahasa dan bagaimana orang menggunakannya dalam kehidupan. Sedangkan programming tentang urutan proses mental yang berpengaruh pada perilaku dalam mencapai tujuan dan bagaimana memodifikasinya.

Awalnya pencipta NLP mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang amat sukses di bidangnya. Misalnya Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (terapis keluarga), Gregory Bateson (antropolog dan sibernetik) dan Milton Erickson (hipnoterapis).
Metode yang digunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut ilmu meniru (modelling). Setelah bertahun-tahun memodel, keduanya berhasil mengembangkan teknik mental yang sangat berguna bagi dunia terapi. Oleh keduanya ilmu ini dikembangluaskan untuk meniru berbagai keunggulan manusia yang berkiprah di berbagai bidang.

Dalam perkembangannya NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins sehingga dikenal di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Nama besar yang tercatat menggunakan NLP untuk meraih kesuksesannya adalah Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, Nelson Mandela dan lain-lain.

Singkat cerita dari dua tokoh pendiri itu selanjutnya berkembang sejumlah “aliranâ€Â besar NLP dengan modifikasi dan sebutannya. Sejak aliran Neuro Associative Conditioning (NAC) Anthony Robbins, New Code NLP dari Grinder, hingga pengembangan NLP ke arah DHE (Design Human Engineering) oleh Bandler yang menyebut alirannya sebagai Pure-NLP. Selain itu ada Michael Hall dan Bob Bodenhamer mengembangkan NLP menjadi Neuro Semantics (NS) atau Meta NLP. Yang terakhir ini biasanya digolongkan aliran akademis. Tokohnya akademis NLP lainnya adalah pendiri NLP University (NLPU) Robert Dilts. NLPU yang berkedudukan di California merupakan salah satu komunitas NLP terbesar dari ratusan komunitas yang ada di dunia.

Sedangkan dedengkot (pengembang) NLP jumlahnya hingga kini kurang dari 100 orang. Selain nama yang telah disebut ada Steve Andreas, Judith De-Lozier, Leslie-Cameron Bandler, Joseph O’Connors, John LaValle dan lain-lain. Bicara aliran NLP tidak dimaksudkan untuk memperbandingkan mana yang terbaik, namun untuk merunut arah pengembangan yang cenderung spesifik.

Setahu saya awal pertama kali masuk Indonesia sekitar tahun 1998-an, oleh beberapa orang. Saat ini saya lihat beragam sekali background pelatih NLP di Indonesia, beberapa orang Indonesia lulusan NLPU, ada yang murid langsung Bandler, ada yang lulusan NAC, selain itu ada yang mengusung berbagai aliran. NLP mulai dikenal luas di publik Indonesia sekitar 2003-an. Saya sendiri menggabungkan NLP dengan berbagai aliran hypnotism secara ekstensif. Ada lagi yang menggabung NLP dengan Mind Power yang tidak secara jelas mengusung aliran yang mana.

Tentu saja masih ada individu lain yang saya tidak terlalu mengenalnya namun juga pelatih NLP. Mereka semua menawarkan program seminar atau pelatihan ke publik berbentuk aplikasi NLP, dan ada yang menangani permintaan dari perusahaan. Secara umum permintaan training NLP ini sedang dan terus meningkat pesat hingga beberapa tahun mendatang.
RE dan RI

Yang terpenting adalah memahami soal model. Penjelasannya gambar manusia dengan otaknya. Apa pun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, lidah, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) ke sistem syaraf dan dibawa ke otak. Fakta yang ada di luar diri disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory. Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang, dan lain lain.

Contoh handphone (HP) di tangan saya. Saat melihat HP ini yang terlintas pada Anda mungkin kata jorok karena keypad-nya sudah jelek. Sedangkan saya berpikir ini HP kesayangan, kuno tapi masih enak dipakai. RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya mazhab psikologi di awal perkembangannya (Psikoanalisis, Behaviorisme), gagal memahami hal ini. Bahwa manusia tidak bereaksi terhadap RE, tapi dia bereaksi terhadap RI-nya sendiri. Baru psikologi mahzab keempatlah yang memahami fenomena ini. Mahzab Behaviorisme tidak berhasil menjelaskan hal ini. Dan NLP awalnya muncul merupakan reaksi terhadap behaviorisme yang menganggap manusia seolah tak punya daya/pilihan untuk memberikan respons berbeda pada suatu stimulus yang sama.

Contoh lain saya teriak ‘asu’ ke Anda. Realitanya cuma ujaran satu kata itu. Tapi begitu masuk pikiran, tergantung Anda mengartikannya. Kalau RI Anda mengatakan ‘Ronny cuma bercanda’, Anda akan tertawa. Kalau RI Anda mengatakan, ‘ke orang lebih tua kok bilang begitu kurang ajar’, Anda akan marah. Marah tidaknya Anda berarti tidak tergantung ujaran ‘asu’ tadi. Tapi tergantung bagaimana Anda memaknai ucapan itu. Nah ketika RE diberikan makna melalui suatu proses tertentu, maka itu kemudian menjadi RI. Jadi map is not the territory, peta bukanlah yang sebenarnya atau RI bukanlah RE. Sedihnya, manusia sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya bereaksi (berespon) terhadap RI, tapi mereka mengira reaksi (respon) mereka adalah terhadap RE.

Dulu kita sering mendengar istilahsuccess is the mind game, sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya it doesn’t matter with RE, yang penting RI-nya. Efektif tidak orang itu memahami RE? Ini basic NLP. Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah.

Kebanyakan yang sakit jiwa adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak. Kalau orang gila bener-bener RI dikira RE. Wong edan RI dikira RE. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih untuk membuat (menciptakan pilihan) RI secara sadar terhadap suatu RE.

Core NLP adalah menguasai berbagai tools mengenai RI. Intinya nguplek-uplek RI, milik sendiri ataupun punya orang lain. Makanya di buku NLP Vol 1, Bandler menyebut bahwa NLP adalah the study of subjective experience atau NLP adalah kajian tentang pengalaman subjektif atau RI.

Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.

Contoh kongkrit
Misalnya, dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri. Terus Anda diminta presentasi di depan BOD (Board Of Director) nggak pede. Saya (dengan menggunakan NLP) bisa membantu ‘mengambil’ pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu namanya Anda melakukan modelling diri sendiri.

Memodel orang lain juga bisa. Kita bisa meniru Walt Disney, ataupun memodel orang lain yang masih hidup. Bahkan pionir NLP Robert Dilts dalam artikelnya di http://www.nlpu.com/ menulis cara untuk dapat memodel keunggulan Yesus dalam hal wisdom (buka http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm).

Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis. Dalam kaitan ini NLP relatif tidak mengakui adanya bakat, yang supranatural sekali pun. Bakat adalah strategi atau urutan proses mental yang efektif dan bisa ditiru. Orang bisa punya bakat, yang seolah-olah turunan, karena dibiasakan atau terbiasa melihat bapaknya atau entah siapa. Secara unconscious hal itu menularkan pola pemikiran yang efektif.
Perkakas yang lain

Perkakas yang lain antara lain klarifikasi, anchor, reframing dan metafor. Ada ratusan tools, teknik atau pola-pola yang siap pakai. Nah kebanyakan orang di dunia itu cuma belajar tools tapi mengira sudah mengetahui NLP. Diajari teknik presentasi dengan NLP, setelah itu mengklaim saya sudah tahu NLP. Sedihnya kalau mereka merasa gagal, dibilang NLP nggak jalan. Ibaratnya orang yang baru membaca buku psikologi praktis terus merasa sudah tahu psikologi, kalau gagal dia bilang ‘Aalah psikologi nggak jalan kok’. Padahal yang diketahui sebenarnya hanya satu teknik di psikologi.

Tools ini hanya hasil akhir paling praktis yang paling gampang dilihat. Memang ini penting, tapi kalau itu saja yang dilihat terus menyimpulkan ‘NLP tidak jalan’ itu kan sama saja bohong. Jika diibaratkan di bidang teknik, maka orang yang seperti itu hanya jadi semacam tukang saja. Sedangkan bila menguasai ilmu NLP kita bisa jadi orang yang mampu menciptakan semua perkakas yang akan dipergunakan oleh para tukang. Kalau hanya belajar tools, kita hanya jadi tukang batu atau tukang kayu. Singkatnya belajar NLP adalah bahkan belajar menciptakan perkakas baru. Perbandingannya diberi pancing dengan diberi ikan.

Esensi yang terpenting itu saja dan selebihnya merupakan sejumlah terminologi dan teknik yang Anda harus dengan cepat menguasai. Saat belajar tools NLP, orang juga juga sering bingung karena banyaknya istilah, seperti di disiplin lain, yang satu sama lain kadang artinya bertabrakan atau malah tak berhubungan sama sekali. Misalnya anchor, yang artinya jangkar, dipakai sebagai istilah lain untuk picu. Istilah through time dalam Time-Line Therapy sering membingungkan jika disejajarkan dengan istilah in time, istilah submodality dalam NLP sering diperbandingkan dengan meta-modality dalam Neuro Semantic dan lain-lain.

Kaitannya dengan proses belajar
Saat Anda belajar apapun, lumrahnya tanpa sadar melalui empat tahap. Unconscious-incompetent, kedua conscious-incompetent, lalu conscious-competent dan terakhir unconcious-competent. Kalau tidak bisa nyetir, Anda tidak tahu apa tepatnya yang tidak bisa, Anda tidak tahu apa yang Anda tidak mampu (unconscious-incompetent). Saat seseorang mulai belajar nyetir, dibilang harus begini begitu lho, mindah gigi persneling, melihat kaca spion, ngerem dan lain-lain, akhirnya Anda jadi sadar kalau tidak kompeten (conscious-incompetent).

Lantas Anda belajar secara bertahap untuk bisa nyetir. Saat baru bisa nyetir mobil pasti akan ingat langkah demi langkah sejak hidupin mesin, nginjak kopling, masukin gigi. Inilah kita sadar kalau kita mampu (conscious-competent), itu kan kondisi paling stres. Skill yang conscious itu kan paling tidak enak. Apapun yang baru kita kuasai, kita harus mikir dulu, kagok sebelum melakukannya. Setelah itu lama-lama menjadi unconscious-competent, ilmu itu sudah dikuasai bahkan di bawah sadar.

Jadi sudah seperti otomatis dilakukan. Jadi biasanya orang belajar melibatkan kesadaran (conscious), padahal goal-nya supaya apa yang dipelajari bisa dilakukan secara unconscious. Nggak mau kan nyetir mobil tapi conscious terus? Lewat NLP atau hipnotis tahap belajar itu bisa loncat, tanpa melalui tahap dua dan tiga, tak melibatkan kesadaran. Kan enak. Tahu-tahu kita bisa. Ini dinamakan unconscious installation, sekalipun di dalam aliran NS-NLP kurang diakui.

NLP juga membantu orang bisa melakukan pemercepatan belajar (accelerated learning), caranya dengan: mengoptimalkan ke lima indera supaya terlibat sehingga kedua belahan otak terlibat, menggunakan anchor, mengupayakan state of mind tertentu (meta state, dll), menggunakan bahasa hipnotik dan seterusnya. Jadi accelerated learning bukan hanya ilmu menggunakan musik untuk mengiringi belajar saja.

Itu bisa berlaku saat belajar yang bersifat konseptual maupun keterampilan atau skill. Yang namanya skill dalam istilah NLP adalah mind to body atau mind to muscle. Apa yang kita pikirkan sudah ‘membodi’ dan masuk di ‘kesadaran’ otot. Nah ini di unconscious juga dikelolanya. Bisa dikatakan semua mekanisme di tubuh kita ini pada prinsipnya kan dikelola di unconscious. Tubuh kita itu kan kata orang seperti gunung es: 12% alam sadar, 88% alam bawah sadar. Karena tubuh itu dikelolanya pada alam bawah sadar itulah teknik hipnotis bisa dimanfaatkan secara optimal.

Kaitannya dengan Kemampuan Supranatural

Pertama ada baiknya kita pilahkan dunia ‘ngelmu’ dalam dua kategori, pertama olah Kekuatan Supranatural/Linuwih dan kedua penggunaan Kekuatan Pinjaman dari mahluk lain (dunia lelembut). Nah, disini kita hanya membahas yang pertama saja, ilmu-ilmu linuwih itu. Ilmu tersebut biasanya diperoleh dengan suatu lelaku atau diberikan oleh orang lain. Semua teknik menurut saya bisa dilihat dari states management (mengelola kondisi pikiran). Dalam dunia ngelmu , cara states management ini dilakukan melalui puasa mutih dan ritual lainnya.

Dalam NLP kita mengakses STATES ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor, dan lain-lain. Di sini kita mulai mengerti, kenapa NLP sering disebut demistifying tools. Beberapa orang yang belajar NLP untuk mengolah kemampuan ini sering salah paham, mengira NLP adalah klenik atau dianggap aliran New Ages belaka.

Suatu saat saya ingin mengumpulkan rekan-rekan yang suka klenik dan penggemar mind-power untuk sehari khusus diskusi terarah. Sebab saya sangat yakin bahwa ilmu yang aneh-aneh itu akan terjelaskan dengan NLP dan bisa diduplikasikan dengan lebih mudah. Misalnya ada seorang teman yang dulu saya anggap apa yang dilakukannya tidak masuk akal (linuwih).

Tapi sekarang kita bisa meniru beberapa kemampuannya tanpa menggunakan ritual, mantra, puasa apapun. Sebutlah seorang teman (paranormal) jika mau menolong membantu ‘menyembuhkan’ orang dengan mempraktikkan tenaga prana atau tenaga dalam. Dia bilang awalnya cuma dengan membayangkan sosok Semar. Ketika sudah terbayang jelas dan dia merasa jadi Semar, tahu-tahu kemampuan itu keluar dengan sendirinya.

Saat saya mau menerapkan itu ternyata tidak bisa, karena Semar bukan tokoh favorit yang bermakana apapun bagi saya. Setelah kita kaji, maka terlihat disini bahwa Semar itu hanyalah anchor atau picu untuk membangkitkan state of mind tertentu. Begitu dia membayangkan Semar, maka dia bilang Semar itu menimbulkan state : rasa welas-asih yang tak terbatas.

Di sini berarti saya harus mencari simbol lain yang lebih cocok. Suatu simbol yang jika saya bayangkan akan meng-generate rasa ‘welas asih’. Bagi saya, membayangkan anak sendiri atau orang tua saya justru akan membangkitkan rasa itu di pikiran dan mental saya.

Hal semacam ini bisa dipakai juga untuk tujuan memperoleh kemampuan linuwih lainnya. Semuanya hanyalah soal ‘ cracking’ atau ‘ unlocking the code’ . Bagaimana nge-crack bakat metafisikanya seseorang, sehingga bisa diduplikasi. Jadi sebenarnya adalah teknik mengetahui bagaimana sesuatu itu diketahui polanya. Intinya itu.

Begitu ketahuan polanya ya selesai. Semua orang bisa mempunyai kemampuan metafisik itu. Itu sudah banyak dibuktikan misalnya dengan menduplikasi kharisma, seperti yang dilakukan Bandler dengan pelatihan Charisma Enhancement, untuk kemampuan public speaking/trainer.

Pembangkitan Reiki dengan Hypnosis
Sebagai contoh, dalam suatu kelas training NLP, saya menghipnotis 30 orang. Sebenarnya saya hanya sedikit bisa reiki tapi tak bisa membangkitkan (meng-attune) kemampuan itu pada orang lain.

Saat mereka terhipnotis, dengan memberi instruksi untuk membayangkan aliran energi ini itu dan sebagainya, eh, tiba-tiba mereka bisa menyalurkan reiki.

Dalam memahami fenomena hipnotis diatas, harus disadari yang ’sakti’ bukanlah si penghipnotis. Yang ’sakti’ itu imajinasi orang-orang yang dihipnotis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan pembangkitan kemampuan reikinya. (kata sakti, saya beri tanda kutip). Yang tidak berhasil mengimajinasikan ya tidak bangkit.

Hypnosis
Penghipnotis itu pada dasarnya cuma fasilitator. Saat saya menghipnotis Anda, yang terjadi saya memfasilitasi proses internal Anda. Begitu proses berjalan, Anda menghipnotis diri Anda sendiri. Jadi yang namanya hipnotis itu tidak ada, yang ada self hypnotic . Saya memfasilitasi proses internal Anda untuk sampai terhipnotis. Artinya tanpa saya, Anda bisa menghipnotis diri sendiri. Dan sekilas hipnotis itu memang lebih mudah dibantu orang lain, melalui cara percaya pada orang lain.

Hipnosis modern (western) itu berbasis pada ilmu komunikasi dan ini berbeda dengan sihir / mejik yang menggunakan kekuatan di luar diri sendiri (mistik). Beberapa pihak sering menyebut cara mejik / sihir ini sebagai ilmu gendam**. Ini agak salah kaprah, salah tapi sudah kaprah.

Yang dibicarakan di NLP adalah hipnosis yang merupakan kemampuan internal seseorang, yakni dalam menggunakan kekuatan komunikasi melalui kata-kata dan bahasa tubuh.

Soal Fobia
Sekarang kita bicara tools. Fobia itu apa? Fobia itu selalu terjadi saat high atau peak emotion of experience. Saat emosinya puncak, di titik ini visualnya atau auditorialnya melihat sesuatu dan terkunci (locked). Orang yang fobia sama tikus karena saat melihat penginderaannya seperti terkunci pada objek itu.

Kalau dalam istilah NLP momen itu disebut V/K association atau visual kinesthetic association. Stimulus visual menimbulkan reaksi kinestetik tak terkontrol atau kepanikan luar biasa. Kemudian ketika RE-nya (tikusnya) sudah tidak ada, dikageti “Hi.. tikus!” saja, atau membayangkan tikus saja, dia sudah ketakutan dan megap-megap. Jadi membayangkan tikus pun takut. Membayangkan itu letaknya di RI kan. Begitu kita bisa mengubah RI-nya -tidak dengan nasehat, tapi dengan terapi- reaksi ketakutan itu akan berubah.

Ibaratnya komputer, saat programnya diedit, di-save dan software-nya di-upload ulang, kan sudah berubah. Dari berbagai pelatihan bisa diuji bahwa ternyata memori dalam pikiran itu ada warnanya. Selama ini kita jarang menyimak soal ini. Biasanya memori yang kurang penting/tidak penting disimpan dalam bentuk ingatan hitam-putih, sedangkan memori yang penting disimpan dalam modus berwarna. Setiap orang beda-beda karena ada yang sebaliknya: yang tidak penting justru berwarna. Itu disebut sebagai blue-print ..

Orang fobia tikus, biasanya memori-nya warna-warni dan associated . Prinsip penyembuhan fobianya adalah mengubah struktur memorinya. Kalau gambarnya semula berwarna-warni, jadikan hitam-putih sehingga jadi tidak penting. Jika semula associated, maka ubahlah menjadi dis-associated. Begitu pula kalau sebaliknya.

Dan terapinya memang sesederhana itu. Asyik ya? He.. he..

Kadangkala instruksinya ya di-zoom out gambarnya, digerakkan, didiamkan, terus dibuat lukisan, seperti itu. Bandingannya file yang kita simpan di komputer yang pasti punya atribut, yaitu hidden, archive, read only dan systems.

Kalau hidden-nya kita aktifkan, file-nya jadi tak kelihatan. Kalau di-off, jadi kelihatan. Kalau read only -nya dihidupkan tak bisa di-delete. Kan gitu. Memori manusia juga seperti itu. Warna hitam-putih. Bergerak atau diam. Jauh atau dekat. Atas atau bawah. Itu disebut submodality.

Itulah yang merepresentasikan bagaimana Anda mengorganisasi memori Anda. Saat pengorganisasiannya diubah, sifat memorinya pun berubah. Tentu saja harus dipermanenkan. Jadi saat tikus dijadikan hitam-putih warnanya terus diberi anchor dan dipermanenkan, begitu melek lagi, tikus tadi sudah bukan objek menakutkan. Itulah prinsipnya editing memori. Prinsip dasar mengubah submodality ini terutama untuk menyembuhkan orang trauma yang kalau dilakukan dengan benar akan mengubah drastis reaksinya.

Begitu pula pada orang yang ingin berhenti merokok juga dengan mengubah submodality memorinya. Ini untuk ingatan yang positif maupun negatif karena semua memori punya content dan konteks atau struktur. Fobia itu content-nya negatif yaitu cemas. Tapi konteks atau strukturnya positif. Positifnya : sekali dilihat, ingat seumur hidup. Masalahnya yang dilihat yang jelek.

Kalau itu content-nya diganti gimana? Nah mekanisme photoreading adalah seperti kejadian fobia ini. Sekali suatu buku dibaca maka akan diingat seumur hidup. Enak banget karena orang bisa ingat isi sebuah buku dari depan sampai belakang tanpa perlu membacanya halaman demi halaman. Kenyataannya ada orang berkemampuan memori fotografis seperti ini. Belajar photoreading dengan NLP adalah dengan cara memodel orang berkemampuan seperti memory-photografic itu, sehingga setiap orang biasa juga akan bisa melakukannya tanpa harus punya bakat .

===

)**

Catatan tentang gendam.

Ada banyak simpang siur tentang gendam. Ada yang mengatakan gendam adalah hipnotis ada pula yang mengatakan adalah sihir. Keduanya adalah benar, maksudnya kedua “kubu” yang bertentangan itu sebenarnya membiarakan hal berbeda namun menggunakan istilah yang yang sama.

Misal kata “buku”, yang satu bilang buku adalah batasan ruas jari tangan, sedangkan yang satunya buku adalah sekumpulan kertas yang dijilid. Keduanya adalah benar, membicarakan hal yang berbeda namun istilahnya sama. Kesimpangsiuran semacam ini disebabkan belum dibakukannya istilah-istilah mistik semacam ini dalam bahasa Indonesia.

Adapun pihak yang mengartikan “gendam” adalah ilmu mistik untuk tujuan membuat seseorang tidak sadar. Biasanya ilmu ini bisa diperoleh melalui laku tertentu, tirakat, azimat, amalan (mantra). Alirannya bisa putih maupun hitam, intinya adalah ini bukan ilmu komunikasi seperti hipnotis, namun penggunaan “daya linuwih “. Saya rasa boleh saja mereka menyebutnya sebagai gendam juga, meskipun sebenarnya akak salah kaprah.

Di sisi lain, beberapa pihak menyebut “gendam” sebagai bagian hipnotis, ini juga benar. Gendam adalah salah satu teknik hipnosis yang menggunakan shock, pemutusan pola (pattern interrupt), dan pembingungan suyet (distraction/confusion ) sebagai jalan induksi.

Istilah gendam yang ini menjadi populer semenjak banyak kejahatan yang menggunakan cara ini di jalan-jalan.

Written by ronnyfr on 27 December 2006 – 5:56 pm -
(Artikel ini pernah dimuat di http://www.pembelajar.com/, hasil wawancara antara Rab A. Broto dengan saya.)
@www.cahyopramono.com/2008/04/hipnotis-dan-nlp-dari-penyembuh-fobia.html

0 komentar:

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates