Bisnis Pelayanan, Bisnis Persiapan

Rabu, 07 Juli 2010 Label:
Pagi itu di Holiday Inn Bandung, saya berbagi pengalaman untuk Bio Farma, produsen vaksin terkemuka di tanah air yang berusia lebih dari 100 tahun. Esoknya, saya melototin konser Muse, band jenius asal Inggris yang menggemparkan dunia, bersama dengan 7.000-an penonton lainnya di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Walau terhitung tidak murah, tetap saja 95 persen tiketnya diborong oleh penonton (dan calo tentunya).

Bagi saya, musik Muse sangat eksentrik dan futuristik. Ah, pokoknya sukar didefinisikan. Namun di atas segalanya, yang membuat saya terperanjat adalah aksi panggung vokalisnya. Wuih, memukau! Sambil menaik-turunkan vokalnya, tangannya tiada henti menyayat-nyayat gitar dengan kecepatan tinggi.

Itu tok? Tidak, tidak. Selain berlari, sesekali ia juga berpose layaknya rocker sejati. Bahkan tanpa beban, ia menukar-nukar instrumen antara gitar dan piano (juga memainkannya). Dalam hati, saya bergumam, “Wow, ini baru show!” Berbeda dengan aksi band Good Charlotte yang saya tonton beberapa waktu sebelumnya menjemukan.

Esok siangnya saya ngobrol berjam-jam dengan seniman senior WS. Rendra dan istrinya di Grand Hyatt Jakarta. Selain bertukar pikiran tentang grup musik saya ANDALUS, kami juga menyinggung soal teater dunianya Rendra. Ia mengaku, untuk sebuah pementasan berdurasi 2 jam saja, ia membutuhkan persiapan sekitar 3 bulan. Sebagai pembicara seminar, saya sih tidak heran. Karena saya juga menggodok persiapan yang kurang-lebih serupa untuk sebuah topik. Dan saya yakin, Muse juga begitu. Paling tidak, untuk penampilan perdana.

Ternyata bisnis berbasis pelayanan tak ubahnya seperti show, yang mana identik dengan persiapan. Katakanlah, rumah sakit, salon, hotel, dan bank. Begitu sebuah bank dibuka jam 8 teng, berarti sebuah show dimulai. Bukan cuma itu, seluruh personil juga dituntut perform sesuai skenario. Ndak boleh akting seenak udel. Untuk berapa lama sih? Setidaknya, sampai 9 jam berikutnya. Nah, agar show berlangsung apik dan menarik, maka persiapan kudu matang. Ya, iyalah. Mana boleh setengah matang? Anda pikir telor mata sapi?

Dan perlu digarisbawahi, kadang kala durasi persiapan itu jauh lebih lama daripada durasi show. Sebenarnya, persiapan sebuah bank memakan waktu bertahun-tahun sebelum beroperasi untuk pertama kalinya. Setelah beroperasi, tetap saja persiapan menjadi suatu keniscayaan. Itu tidak bisa dipungkiri. Bentuknya bisa berupa morning briefing, rapat harian,evaluasi bulanan, pelatihan berkala, koordinasi lapangan, dan masih banyak lagi. Yah, persiapan demi persiapan.

Saya teringat ketika 2 hari berada di Disneyland belum lama ini. Sekedar berbagi cerita, di sana setiap jengkal didesain tidak lain untuk memuaskan indera penglihatan dan indera pendengaran pengunjung-pengunjungnya. Sepertinya, segala khayalan masa kecil dihalalkan di theme park tersebut. Beneran! Dan dapat dikatakan, Disneyland betul-betul berhasil menjamu tamu-tamunya yang berdatangan dari seluruh penjuru bumi.

Siangnya sempat saya menyaksikan pementasan opera Lion King, yang jauh-jauh hari sudah dikenal sebagai film box office. Diperkaya dengan tembang legendaris dari Elton John, Circle of Life dan Can You Feel The Love Tonight, pementasan itu bagaikan dongeng. Betapa tidak? Tanpa diduga-duga, para pemain muncul dari dasar lantai atau dari langit-langit. Belum lagi binatang-binatang tiruan berukuran raksasa yang berakting di tengah-tengah panggung. Dan segudang kejutan lainnya. Dengan pementasan yang begitu mempesona, saya jadi tidak habis pikir betapa melelahkan persiapan mereka.

Malamnya meski gerimis ada pertunjukan penutup yang tidak boleh dilewatkan, yakni atraksi kembang api dan kobaran api di angkasa. Yang satu ini lain lagi serunya. Asal tahu saja, atraksi tersebut menyeruak di sela-sela istana yang megah. Silih-berganti, seolah-olah tiada henti. Ribuan pasang mata dipaksa untuk terbelalak karenanya. Ditambah lagi alunan musik Beauty and The Beast dan A Whole New World yang membahana selama setengah jam. Telinga bak dininabobokan. Kok bisa, ya? Sekali lagi, prinsip dasarnya ialah persiapan.

Seperti yang disinggung sebelumnya, bisnis riil terutama yang berbasis pelayanan juga tidak luput dari faktor persiapan. Pelayanan, mana mungkin dijamah (intangibility), mana mungkin disimpan (inventory absence)? Sudah begitu, produksi dan konsumsi berlangsung serentak pula (inseparability). Dampak pun sukar untuk diseragamkan (inconsistency). Yah, lantaran variabel manusia dan variabel lingkungan. Istilahnya, 4 I's of Service.

Mengingat keempat ciri tersebut, maka faktor persiapan menjadi kian krusial. Jelas itu! Rasa-rasanya, tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebagai pembanding, tengok saja persiapan dan penampilan Muse, Rendra, dan Disneyland. Ringkasnya, gagal mempersiapkan berarti Anda mempersiapkan kagagalan. Camkan itu!

Dikutip dari buku Begini Harusnya Bisnis!
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Bisnis-Pelayanan.html

0 komentar:

Poskan Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG ISI ARTIKEL DI ATAS..??
Silahkan menulis komentar anda, trims.

 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates