0 DNA, Informasi, Biologi, dan Lingkungan

Minggu, 13 Februari 2011 Label:
Sejak Shannon-Weaver menerbitkan tulisan-tulisan mereka, berbagai kajian tentang informasi pun meluas ke segala bidang kehidupan. Bahkan, teori informasi memicu serangkaian penelitian di bidang biologi, misalnya dilakukan oleh Gatlin (1972) yang menyatakan bahwa DNA mahluk hidup melakukan fungsinya sebagai sebuah proses informasi dan sebab itu teori informasi matematika dapat dipakai sebagai teori biologi. Kemudian juga ada Holzmuller (1984) yang melakukan kuantifikasi informasi dan membedakan antara wadah-pembawa atau wahana (carrier) dan kandungan-isi (content).

Dalam biologi DNA (deoxyribonucleic acid) adalah unsur dasar keturunan setiap mahluk. Sebagai sebuah sistem, DNA memiliki semacam kode untuk menginstruksikan pembuatan protein-protein tertentu. Protein ini kemudian menentukan struktur dan cara kerja sebuah organisme. Setiap spesies di semesta ini punya kombinasi protein yang unik, yang menentukan perbedaan antara satu mahluk dari mahluk lainnya.

Menurut Holzmuller, setiap DNA menyimpan informasi dalam bentuk kelompok-kelompok molekul dasar (base molecules). Informasi yang terkandung di dalam sebuah DNA ini dapat dihitung. Pertambahan informasi yang terjadi selama evolusi sebuah DNA, dengan demikian, dapat dihitung pula. Sejalan dengan waktu, informasi ini semakin panjang dan rumit. Dalam konteks evolusi, maka mahluk hidup yang berada di tingkatan evolusi paling tinggi akan memiliki informasi genetik paling rumit. Sekaligus, mahluk itu juga akan punya kemampuan lebih pandai dalam memberi respon, beradaptasi terhadap, maupun memanipulasi, lingkungannya.

Memang, dari sisi pandang biologi, semua mahluk hidup merupakan hasil konstruksi kimiawi yang pondasinya ada dalam bentuk asam nukleat (nucleic acids), protein, karbohidrat dan lemak. Dalam biologi, asam nukleat berbentuk DNA dan RNA (Ribonucleic acid, sebuah komposisi kimiawi yang terdapat dalam sel dan memainkan peran penting dalam membuat sintesa protein dan pembentukan-pembentukan kimiawi) adalah unsur-unsur pembawa informasi sebab mereka mengandung kode-kode tertentu. Penelitian biologi molekular sudah lama menemukan bahwa setiap molekul DNA memiliki serangkaian kode untuk memberi instruksi kepada tubuh agar memproduksi protein-protein tertentu. Protein ini menentukan struktur mahluk hidup yang bersangkutan dan dengan demikian ikut menentukan kemampuan mahluk beradaptasi dengan lingkungan.

Goonatilake (1991) membahas persoalan informasi dari sisi pandang biologi secara amat menarik dengan menelusuri proses kejadian biologis di dalam tubuh manusia dan kaitannya dengan peristiwa-peristiwa informasi di luar tubuh, termasuk yang terjadi di dalam masyarakat luas. Untuk menggambarkan kaitan ini, Goonatilake mengajak kita memeriksa bagaimana rangkaian kode yang terkandung di molekul-molekul DNA memicu dua proses informasi di dalam tubuh setiap mahluk hidup.

Pertama, DNA melakukan apa yang disebut proses transkripsi, yaitu membuat salinan (copy) dari perintah-perintah pembuatan protein ke dalam molekul-molekul RNA. Setiap molekul ini (disebut pula RNA “pembawa pesan”) menjauh dari DNA dan masuk ke lapisan cytoplasm dari sebuah sel untuk memicu kegiatan kedua, yaitu proses translasi untuk memproduksi protein yang akhirnya ikut menentukan karakteristik sebuah organisme. Mekanisme di dalam sel organisme inilah yang dianggap sebagai awal dari aliran “informasi genetik” yang selanjutnya membentuk semacam aliran silsilah atau garis keturunan (flow of lineage). Informasi genetik ini dibawa sejak awal masa pre-biotik sebagai sebuah garis keturunan sehingga ciri-ciri tertentu dari mahluk hidup tetap bertahan sejak awal kehidupan.

Selanjutnya, ulasan semakin menarik ketika kita melihat bahwa selain informasi genetika, ada lagi informasi lain yang dihasilkan oleh mahluk hidup secara biologis, yakni informasi sebagai hasil kerja hormon dan kegiatan urat syaraf. Pada dasarnya hormon menentukan cara mahluk hidup bereaksi terhadap rangsang atau keadaan, sedangkan urat syaraf juga melakukan hal yang sama tetapi dengan tingkat kerumitan dan kecepatan yang lebih tinggi. Hormon dihasilkan oleh sel-sel tubuh dan berfungsi sebagai pemicu reaksi kimiawi di sel-sel tubuh lainnya, dan selanjutnya rangkaian aksi-reaksi inilah yang muncul dalam bentuk aktivitas tubuh untuk membantu setiap mahluk hidup bereaksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan luar tubuhnya.

Sistem syaraf juga membantu mahluk hidup bereaksi terhadap lingkungan, dengan cara yang jauh lebih cepat dibandingkan sistem hormonal. Sistem syaraf ini terdiri dari sel-sel khusus yang berfungsi sebagai rangkaian simpul untuk mengirim, mengolah, dan menerima informasi, persis seperti sistem telekomunikasi buatan manusia saat ini. Komponen utama dari sistem syaraf adalah neuron (atau disebut juga sel syaraf) yang mampu mengirim dan menerima getaran-getaran yang mirip getaran listrik arus lemah. Getaran-getaran inilah yang secara terkoordinasi menyebabkan setiap mahluk hidup dapat “merasakan” lingkungan sekelilingnya. Di mahluk-mahluk hidup tingkat rendah, sistem urat syaraf ini jauh lebih sederhana, dan tidak memiliki “pusat pengendali”. Pada manusia, sistem syaraf ini merupakan sistem amat rumit dan memiliki pusat pengendali dalam bentuk otak.

Dari sisi pandang biologi, semua reaksi dan respon fisiologis terhadap lingkungan merupakan kemampuan dasar mahluk hidup itu untuk menyesuaikan diri atau belajar tentang lingkungannya, agar dapat bertahan hidup. Dengan demikian, maka informasi yang diproduksi dan berlangsung di dalam tubuh mahluk juga merupakan bagian yang fundamental dari keseluruhan proses belajar dan pembentukan kebiasaan (habituasi) mahluk hidup. Dengan kata lain, sistem urat syaraf manusia memang dianggap penting dalam proses kemampuan manusia untuk dapat hidup dalam kebiasaan-kebiasaannya, sehingga ikut pula menentukan atau ditentukan oleh kebudayaan atau kultur. Itu sebabnya Goonatilake menamakan proses informasi yang melibatkan hormon dan syaraf manusia ini sebagai proses neuro-cultural.

Selanjutnya, melalui berbagai proses evolusi di dalam tubuhnya, setiap mahluk hidup membangun kemampuan otak untuk membuat semacam model yang meniru dunia sekelilingnya alias models of the world. Pada mahluk-mahluk yang punya kemampuan intelegensia tinggi, seperti manusia, maka otak adalah organ yang mampu membangun gambaran tentang dunia di luar tubuh (dunia eksternal) untuk membantu mahluk hidup tersebut memahami lingkungannya. Kemampuan membangun model inilah yang pada manusia menjadi salah satu ukuran dari kecerdasan. Manusia lalu membangun berbagai model di dalam kepalanya sehingga menciptakan keragaman kecerdasan (multiple intelegence).

Hasil penggunaan kecerdasan yang pada dasarnya adalah proses produksi dan penggunaan informasi di dalam tubuh manusia akan “meluber” ke luar dalam bentuk perilaku-perilaku yang dapat terlihat oleh manusia lain. Dari sinilah kemudian terbentuk perilaku sosial, yaitu ketika satu manusia melakukan perilaku yang disesuaikan dengan perilaku manusia lainnya. Lewat perilaku ini pula terjadi pemindahan dan pertukaran informasi di luar tubuh manusia. Maka terciptalah sebuah aliran tak terputus, mulai dari informasi genetik yang berwujud produksi kimiawi oleh DNA dan RNA, sampai ke hormon, sistem urat syaraf, otak, sampai perilaku yang tertampak, lalu berlanjut ke perilaku sosial. Sebagian dari perilaku sosial ini kemudian menggunakan simbol-simbol, mulai dari gerak-gerik, suara, sampai aksara. Semua ini terjadi di luar tubuh manusia, sehingga dinamakan proses exosomatic.

Dari uraian di atas, Goonatilake dengan demikian telah membuat konsep tentang ada 3 jalur transmisi informasi yang dapat dikaitkan dengan kehidupan, yaitu garis-alur transmisi informasi genetik, neural-cultural, dan exosomatic (1991, hal. 118–120). Secara ringkas, rangkaian ketiganya dapat dilihat sebagai berikut:

* Informasi genetika ditransmisikan melalui proses pewarisan biologis, dan dipengaruhi oleh seleksi alam. Goonatilake menganggap perubahan-perubahan genetika yang mengawali semua mahluk hidup dapat dikatakan sebagai “percakapan” dengan alam, dan percakapan yang sukses akan tersimpan dalam bentuk genome.
* Sementara untuk elemen neural-cultural, Goonatilake menganggap bahwa semua mahluk hidup harus beradaptasi terhadap perbuahan alam setiap hari, dan ada umpanbalik yang terus menerus (feedback loop) antara sistem saraf dan lingkungan yang mempengaruhi keduanya. Hormon dan sistem syaraf menjadi saluran transmisi informasi kultural dari generasi ke generasi Goonatilake memberlakukan kombinasi neural-cultural sebagai garis alur kedua. Jadi, informasi dapat dipindahkan antara mahluk hidup dan lingkungan, dan dari mahluk ke mahluk lain melalui observasi atau komunikasi.
* Selanjutnya, mengenai garis alur ketiga, Goonatilake mengatakan bahwa garis eksosomatik terdiri dari informasi-informasi yang disimpan di luar mahluk hidup sebagai “eksternalisasi memori”. Contohnya adalah semut yang meninggalkan jejak hormon untuk menuntun semut lain. Manusia yang jauh lebih canggih dari mahluk lainnya mampu membuat simpanan informasi yang lebih rumit, mulai dari lukisan gua, sampai buku, sampai pangkalan data digital.

Dengan mengaitkan proses biologi dengan proses informasi, maka Goonatilake mendefinisikan informasi sebagai “mekanisme pengaturan yang memungkinkan kemampuan untuk berurusan dengan lingkungan. Merupakan sebuah deskripsi simbolik yang memilki moda interpretasi dan berinteraksi dengan lingkungan” (hal.1).

Dengan kata lain, informasi adalah sebuah mekanisme yang mengatur mahluk hidup berhubungan dengan lingkungannya. Mekanisme ini merupakan elemen umum yang hadir sepanjang waktu dan turun-temurun. Sebagian dari mekanisme ini berwujud simbol-simbol yang menggambarkan sesuatu atau merujuk ke sesuatu yang lain.

Bacaan:

Gatlin, L.L. (1972), Information Theory and the Living System, New York : Columbia University Press.

Goonatilake, S. (1991). The evolution of information: Lineages in gene, culture and artefact. London: Pinter.

Holzmuller, W. (1984), Information in Biological Systems : the Role of Macro-molecules, Cambridge : Cambridge University Press.
Read more

0 Berburu Badai

Sabtu, 12 Februari 2011 Label:
Storm Hunter atau Berburu Badai mungkin masih asing di telinga kita yang notabene tinggal di daerah yang jarang terjadi badai. Namun di negara-negara langganan badai hal ini merupakan hal yang lumrah dan malah menjadi trend wisata baru. Sebuah riset yang dilakukan sejumlah pakar dari University of Missouri menunjukkan bahwa trend “berburu badai” saat ini menjadi topik hangat di kalangan turis mancanegara. Para wisatawan itu mengaku sangat menikmati melihat secara langsung pemandangan tornado dari dekat. Sementara obyek wisata “perburuan badai” menjadi peluang pasar baru yang kian populer dalam dunia pariwisata.

Para peneliti dari Universitas Missouri menemukan bahwa sebagian besar responden survei puas dengan pengalaman berburu badai. Sepertiga dari mereka menyaksikan dan mengalami sendiri tornado, 50 persen melihat awan corong, dan lebih dari 95 persen melaporkan melihat peristiwa atmosfer yang signifikan.

Ron mengatakan aktivitas berburu badai bisa membuat seseorang ketagihan, yang mana dalam hal wisata perburuan badai tidak diragukan perkembangannya.

“Setiap badai berbeda, dan setelah Anda melihat salah satu, Anda ingin melihat satu lagi, dan setiap kali Anda melihat yang lainnya, Anda ingin melihat yang lain dan yang lain.

Pemilik biro perjalanan “Kitchener”, sekaligus seorang ahli masak, Ron Gravelle adalah satu-satunya warga Ontario, Kanada yang mengelola bisnis perjalanan menuju lembah badai “Tornado Alley” dan perusahaanya yang berkantor pusat di Amerika Serikat menawarkan pilihan obyek wisata dengan rute perjalanan melintasi jalur perburuan di sekitar wilayah Oklahoma, Kansas, dan Nebraska.

“Perjalanan semacam ini ibarat permainan yang memacu adrenalin karena Anda tidak mungkin melakukannya sepanjang waktu. Banyak orang di seluruh dunia, menganggap ini kesempatan langka, dan memiliki keinginan kuat untuk pergi kemari melihat badai, “katanya.

Selama beberapa tahun melakukan penelitian terhadap aktivitas badai menggunakan model grafik komputer dan cuaca, Gravelle melakukan prediksinya sendiri. Di antara peralatan yang dipergunakan untuk melacak badai adalah satelit penghubung langsung dan GPS dengan radar yang mampu menjangkau hingga jarak 100 kaki. Namun, untuk bisa menangkap tornado mungkin cukup menyulitkan, paparnya.
Dengan curah hujan dan badai yang begitu besar (kecuali jika Anda berada di sudut pandang yang tepat ke arah badai), meski berada jauh dari hujan, Anda tidak akan mendapatkan pemandangan apapun. Maka untuk melihatnya, jarak Anda harus cukup dekat dan ini sangat berbahaya, namun tatkala Anda berhasil melihatnya akan seperti pemandangan yang sangat mengagumkan dan itu akan selalu Anda ingat seumur hidup. ”

Selama 13 tahun pengejarannya mencari badai di Tornado Alley, Ron telah 250 kali menyaksikan badai dashyat disertai hujan lebat dan angin puyuh yang mencekam dan melihat tornado lebih dari 98 kali. Dari empat klasifikasi badai, jenis supercell adalah yang paling umum dan memiliki potensi yang paling parah.
sumber : epochtimes.co.id

by : http://beritapopulerz.blogspot.com/2010/12/storm-hunter-wisata-baru-penikmat.html
Read more

0 Filsafat Jalan Miyamoto Musashi

Selasa, 18 Januari 2011 Label: ,

oleh Lazuardi Adipradana Hasyim

Dilahirkan di sebuah desa yang bernamaMiyamoto di tahun 1584, Musashi terlahir sebagai Munasai Takezo. Masa kanak-kanak Takezo tidaklah bahagia. Ia tidak akur dengan ayah kandungnya, Munasai Hirata seorang samurai pemilik tanah. Takezo selalu melontarkan kritik pedas terhadap seni bela diri ayahnya, hingga menyebabkan ketiak akuran diantara ayah dan anak ini. Situasi yang demikian membuat Takezo kabur memilih meninggalkan rumah untuk hidup bersama pamannya yang saat itu usianya belum mencapai 13 tahun.

Tapi di usianya yang 13 tahun tersebut, Takezo sudah mampu menaklukkan seorang pendekar pedang Shito-ryu yang bernama Arima Kihei. Lawannya itu dirobohkan dan dipukulinya dengan tongkat hingga tewas. Kemudian pada usia 16 tahun, Takezo bertarung dengan seorang samurai tangguh dan kembali muncul sebagai pemenang. Mulai saat itu, Takezo memutuskan pergi bertualang mengikuti “Jalan Pedang”. Tak lama kemudian Takezo terlibat dalam perang habis-habisan antara kubu daimyo (tuan tanah) Ieyasu melawan klan Hideyori dengan para pengikutnya di pertempuran besar di Sekigahara.Dalam pertempuran selama tiga hari itu tercatat 70.000 orang tewas, Takezo sendiri di pihak pasukan yang kalah berhasil meloloskan diri.

Takezo kemudian bertemu dengan Soho Takuan, seorang pendeta Zen dengan kecerdikannya kemudian berhasil “menawan” Takezo di sebuah sel gelap di puri milik Ikeda. Di sana selama tiga tahun, Takezo ditahan untuk mendalami bertumpuk-tumpuk dan beragam buku. Mulai dari seni perang dari Sun Tzu, Taoisme, buku-buku mengenai Zen hingga ke berjilid-jilid kitab mengenai sejarah Jepang. Pendeta Takuan, selalu bersikap keras itu menasihati Takezo yang terkenal bandel dan liar itu hingga mau patuh menjalani penggemblengan berat tersebut. Salah satu nasehatnya adalah;

“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama, lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan ataukah kamar penuh cahaya”.

Setelah melewati masa pembelajaran tiga tahun, Takezo mendapatkan pencerahan dan dibebaskan dan boleh berkelana lagi. Saat itu usianya 21 tahun, Takezo memulai kehidupannya kembali sebagai Miyamoto Musashi.

Dalam pengembaraannya Musashi kembali bertemu dengan lawan tarung yang bukan sembarang pendekar samurai, mereka adalah para pendekar samurai terkemuka dari berbagai aliran yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Musashi dapat mengatasi mereka satu per satu walaupun ia tidak mempunyai guru atau mewarisi ilmu pedang dari satu aliran tertentu. Ilmu pedang Musashi diperoleh secara otodidak dan bakat alami yang sangat istimewa yang diasah melalui kekuatan observasi, intuisinya dan disiplin yang kuat.

Beberapa duel yang dimenangkan oleh Musashi, banyak terdapat duel yang dianggapnya “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang tentunya tidak mematikan. Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak pandai bermain pedang adalah seseorang yang sangat pandai dengan bakat yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Pertarungan puncak bagi Musashi adalah saat menghadapi Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Kojiro pada zaman itu sosok pemain pedang yang ideal: garis keturunannya tidak ada aib dan guru-gurunya ternama; dan dengan pelatihan yang penuh disiplin, ia berhasil menciptakan teknik permainan pedang yang mengagumkan. Tapi pada akhirnya kepala Kojiro pecah oleh tebasan pedang Musashi pada pertarungan di Pulau Ganryu, 13 April 1612.

Pertarungan Musashi melawan Sasaki Kojiro merupakan titik balik baginya. Sebelum itu, dia menyakini bahwa kemampuan seni berperang adalah kunci kemenangan dalam setiap pertarungan. Tetapi setelah mengalahkan Kojiro, Musashi menyadari bahwa kekuatan dan ketrampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan;

“Ketika umurku sudah lewat tiga puluh tahun dan merenungkan kembali hidupku, aku sadar bahwa aku menjadi pemenang bukan karena kemampuan luar biasa dalam seni bela diri. Mungkin saja aku mempunyai bakat alami atau tidak menyimpang dari prinsip alami. Atau, bisa jadikah seni bela diri lawan itu yang memang mengandung suatu cacat? Setelah itu, dengan tekad jauh lebih besar untuk mencapai pemahaman yang lebih jelas mengenai prinsip-prinsip yang dalam, aku berlatih siang malam”.

Lalu, apa yang memungkinkan Musashi mengalahkan Kojiro jika bukan karena penguasan ketrampilan bertarung? Bagi Musashi, kemenangan sebuah pertarungan terletak pada prinsip atau semangat, bukan tipuan dan ketidakjujuran. Di dalam Kitab Lima Lingkaran, Musashi menulis:

“Jalan seni adalah langsung dan benar, jadi kau harus dengan tegas berusaha mengejar orang-orang lain dan menundukkan mereka dengan prinsip-prinsip sejati”.

Setelah pertarungan itu Musashi memutuskan mundur dari pertarungan, karena rasa bersalahnya sampai membawa kematian lawannya. Musashi kemudian menetap di pulau Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari pemahaman sejati dengan menapaki paruh kedua kehidupannya untuk menjadi seorang seniman dan menjadi terfokus untuk mendalami semua seni. Di masa tuanya Musashi dikenal sebagai seniman dengan banyak kebisaan. Melukis dengan tinta india, kaligrafi, hingga membuat patung. Lagi-lagi seperti kemampuannya bermain pedang, kematangan seninya pun diperolehnya dengan tanpa guru. Buah karyanya dianggap hidup dan indah, hasil dari penyaluran energi batin yang terfokus. Sepertinya kalau inti dasar kehidupan sudah diketahui, kerja yang lain juga dapat dipahami.

Dalam kehidupannya sebagai seorang seniman, ia menulis puisi, mendesain taman, aktif dalam upacara minum teh, mempelajari drama Noh, dan terutama menciptakan lukisan-lukisan tinta dan kaligrafi. Karya seni Musashi berkelas tinggi, menunjukkan bahwa di bidang ini ia juga berbakat istimewa sekalipun menurut pengakuannya lukisan dia belumlah setara dengan teknik pedangnya. Jelas ada upaya mempertautkan antara seni rupa dan seni bela diri, hingga dikatakan, Musashi melukis dengan pikiran pedang. Intens, terkonsentrasi, dan penuh getaran chi. Ia mempunyai keyakinan dan melihat adanya kesejajaran, seperti dalam ucapannya, Dengan prinsip-prinsip seni bela diri, orang membuka jalan bagi seni serta pencapaian lain dan tidak akan keliru memahami keduanya. Pedang, seni, Zen, dan meditasi menjadi satu kesatuan yang saling mengisi, menggenapi, dan karenanya tak terpisahkan.

Musashi juga kembali mendalami ajaran Zen yang nampak dari prinsip dasar satu ini, Musashi senantiasa menekankan mutlaknya memperoleh pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung. Tidak dapat disangkal lagi, pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung merupakan salah satu sendi utama yang dijunjung tinggi Zen, jauh di atas yang lain, misalnya teori. Juga ungkapan pikiran sehari-hari yang alami adalah khas Zen;

“Bebaskanlah pikiranmu, maka niscaya pikiranmu akan menjadi alami.”

Selain Zen, Musashi tampak sekali menghargai tetapi mempertanyakan ajaran Sun Tzu, yang merupakan ahli strategi terbesar sepanjang masa. Terdapat perbedaan pendapat menurut Musashi dan Sun Tzu, dimana Musashi lebih mengutamakan strategi permainan bersih-sekalipun keras dan tegas, tetapi tidak licik atau kotor, menyimpulkan;

“Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.”

Musashi adalah seorang penyendiri, karena sampai akhir hayatnya ia memilih untuk hidup membujang, bahkan memilih jalan kematiannya sendiri. Menurut Musashi kematian adalah sebuah konsekwensi bagi setiap kehidupan. Karena itu saat menyadari bahwa maut akan segera mendatanginya, Musashimemilih Gua Reigan sebagai tempat tuk menyambut kematiannya dengan damai dan sendirian. Saat itu, awal musim semi tahun 1645, Musashi tidak lagi sebagai orang yang kuat, upaya pendakian bukit menuju ke gua itu dicapainya dengan tubuh sangat kesakitan. Suatu hari salah seorang mengirim tabib ke Gua itu, tetapi Musashi tetap berkeras untuk menyambut kematian dengan gayanya sendiri. Tak tega akan keadaan kesehatannya gurunya itu, sang murid kemudian berangkat kepegunungan, pura-pura berburu dengan burung rajawali, dan mampir ke Gua Reigan. Disana dia telah mendapati Musashi dalam kondisi yang sangat lemah dan dia tidak mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Akhirnya, tanpa mempedulikan protes-protes Musashi, sang murid berhasil “membujuk” gurunya itu pulang ke rumah.

Dalam penyepian sebelum kematiannya itu Musashi berhasil menyelesaikan bukunya yang berjudul Kitab Lima Cincin (Go Rin no Sho) yang menunjukkan semua pencarian dan pencapaian spiritual serta jawabannya tentang bagaimana menemukan dan mengamalkan jalan.

Ada sembilan sila yang ditawarkan Musashi untuk kita semua :
  1. Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.
  2. Bentuklah dirimu sendiri di jalan (yang benar).
  3. Pelajarilah semua seni.
  4. Pahamilah jalan semua pekerjaan.
  5. Pahamilah keunggulan dan kelemahan dari segala sesuatu.
  6. Kembangkan mata yang tajam dalam segala hal.
  7. Pahamilah apa yang tidak terlihat oleh mata.
  8. Berikan perhatian bahkan pada hal-hal terkecil sekalipun.
  9. Jangan melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak realistis.

Dalam 62 tahun, tanggal 19 Mei 1645, Musashi menutup mata untuk selamanya di komplek Puri Chiba yang tua. Seperti yang di pinta pada detik-detik terakhirnya, tubuhnya didandani dengan seragam dan helm tempur, dilengkapi dengan enam tanda kebesaran militer, dan ditempatkan dalam peti. Sesuai dengan janji sebelumnya, Musashi kemudian dikebumikan di Kyushu tempat penyepiannya yang terakhir. Setelah selesainya upacara pemakaman yang di pimpin oleh Biksu Kepala Shunzan, terdengar suara guntur bergema di langit yang cerah sebanyak satu kali. Dan entah adakah itu pertanda bahwa Musashi sedang bertarung melawan malaikat maut di sana? Atau sang maestro pedang itu kembali bertarung kembali melawan roh musuh-musuhnya di alam sana?

Kesimpulan :

1.Menemukan dan Menciptakan Jalan

”Jalan” dalam bahasa Cina disebut dengan “Tao” dan dalam bahasa Jepang disebut “Do”. Seperti halnya akhiran –do yang biasa ada di aliran-aliran bela diri seperti kendo, aikido, karate-do, dan lainnya. Itu menandakan bahwa bela diri tersebut bukan sekadar bela diri saja, tapi juga disiplin dan jalan hidup. Makanya rata-rata beladiri tersebut filosofinya sangat dalam. Akhiran –do banyak dipakai di bela diri yang juga menunjukkan cara hidup. Sering disebut hidup sesuai jalannya, akan mengantar pada kebahagiaan dan sebuah petunjuk untuk hidup yang benar.

Bagaimana caranya menemukan jalan? Jalan dapat ditemukan dengan meniru, mencari, dan menemukan. Tetapi jika memodifikasi dan mencampurnya dengan elemen diri, dan jadilah jalan kreasi kita. Musashi, yang tak punya guru dan tak pernah belajar secara khusus pada seorang guru pun, menempuh jalannya sendiri, juga ternyata terpengaruh oleh Sun Tzu, biksu Zen Takuan Soho, samurai hebat Yagyu Munenori, dan kitab hsinhsinming. Jadi, yang ditemukan Musashi (the book of five rings) sepertinya adalah campuran ajaran Zen dari Takuan dan kitab Hsinhsinming, seni perang Sun Tzu dan keahlian Yagyu, ditambah, diaduk-aduk, dieksperimenkan dengan keseluruhan pengalaman pribadinya.

Musashi sebenarnya lebih layak untuk disebut sebagai seorang otodidak. Musashi membimbing dirinya sendiri untuk mendalami berbagai macam ilmu. Salah satu sumber yang banyak ditimbanya niscaya adalah buah pikiran Sun Tzu.Dikenal sebagai ahli strategi besar-kalau bukan yang terbesar-Sun Tzu hidup hampir 2000 tahun mendahului Musashi (400-320 tahun sebelum Masehi);

“Saya suka berpikir betapa hebatnya orang-orang kuno seperti Lao Tse, Konfusius, Socrates, Sun Tzu, sementara kebanyakan dari kita yang hidup pada milenium ketiga ini cuma segini-gini saja.”

Kalau Musashi mendekati strategi melalui contoh-contoh dari tarung-tanding (duel), Sun Tzu lebih membahasnya lewat skenario peperangan. Ada beberapa kalimat dari kitab Seni Berperang (The Art of War) Sun Tzu yang amat membekas di hati Musashi. Selama tiga tahun dalam masa penempaan, Musashi kerap membacanya secara lantang berulang-ulang dengan alunan bagaikan nyanyian;

“Barangsiapa mengenal seni perang, tak akan serampangan ia dalam gerakannya. Ia kaya karsa dalam membatasi kemungkinan.”

“Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barangsiapa mengenal langit dan bumi, ia menang atas segalanya.”

“Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri dan kemenanganmu tak akan terancam. Kenali medan, kenali iklim, maka kemenanganmu akan lengkap.”

Yang lebih menarik lagi, dalam kemampuannya untuk membaca waktu. Setelah mencapai usia 29 tahun, ia memutuskan untuk berhenti menjadi petarung. Kemudian Musashi mentransformasikan dirinya menjadi seniman dan pada usia yang lebih lanjut Musashi kembali memutuskan untuk menjadi pemikir mengenai Jalan Strategi. Keputusannya untuk pindah jalur dan beralih profesi pada saat yang tepat itu memang memerlukan ketajaman intuisi yang luar biasa. Agaknya, ini juga yang membuat Musashi menjadi petarung kehidupan yang tak terkalahkan. Musashi mengatur dan bukannya diatur oleh waktu kehidupan.

2.Keteguhan Hati Mengamalkan dan Menjaga Jalan

Memang lebih mudah untuk menjadi peka, menjadi arif dan penuh perenungan ketika kita dalam posisi yang penuh kesusahan dimana sendi-sendi harga diri kita dibenamkan dan segala kesombongan diruntuhkan. Mudah untuk memahami bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, benda-benda dan penghargaan kita akan arti hidup itu sendiri. Mudah pula untuk menyadari akan kebeningan cita-cita.

Yang tidak mudah adalah untuk tetap konsisten pada pencapaian nurani tersebut. Tidak mudah untuk terus menjaga visi kita yang paling menggebu-gebu sekalipun. Perubahan lingkungan, kemudahan-kemudahan, orang-orang yang berbeda lambat laun dapat melunturkan pencapaian nurani. Pada prosesnya, akan muncul riak-riak yang mengganggu yang mengurangi kadar pemikiran dan tindakan kita.

Musashi pun mengalami naik turunnya semangat dalam mewujudkan jalan pedangnya. Cita-cita yang menjadi visi hidupnya. Musashi sempat terjebak dalam kesombongan sesaat ketika bertemu orang-orang yang terlihat lebih lemah. Jalan pedang seolah-olah menjadi jalan paling berarti dan dalam perjalanannya Musashi banyak mengabaikan unsur-unsur lain di luar dirinya. Musashi kemudian sadar dan berusaha membentuk jalan pedang dengan lurus-lurus pada keyakinan dirinya, menekan segala perasaan lembutnya dan satu hal yang menyelamatkannya dari bahaya keangkuhan adalah keinginannya untuk membuka pintu-pintu ilmu dan belajar dari segala macam orang, segala macam bentuk dan alam semesta.

Dalam kehidupan ini, bukan sekali kita merasakan naik turunnya iman, naik turunnya semangat baik dalam bekerja, menjaga hubungan, dan meraih mimpi-mimpi kita. Bukan sekali dua kali pula kita terjatuh dan kembali pada kebeningan pencapaian nurani. Terlalu dini untuk menyimpulkan jalan pencapain nurani, ada banyak visi dan lebih banyak konsistensi yang akan diperlukan.

Walaupun begitu, ada hal-hal menarik yang agaknya dapat dipelajari dari Musashi. Musashi adalah seorang yang sederhana, rendah hati yang bermain bersih tanpa kecurangan. Musashi keras hati dalam melatih diri dan dalam menimba ilmu berbagai aliran, karena Musashi menyadari bukannya tak mungkin terkalahkan. Musashi selalu menekankan pentingnya timing (ketepatan waktu) dan ritme dalam segala hal. Masuk terlalu cepat atau terlalu lambat dalam pertarungan dipandangnya dapat mengundang persoalan tersendiri. Kemudian perubahan yang terjadi di “langit” dan “bumi” bukan saja harus dicermati melainkan mesti pula diadaptasi untuk keselamatan diri. Juga baginya ilmu pengetahuan itu adalah sebuah “lingkaran bulat”. Artinya, kalau kita bermula dari titik A, setelah melingkar penuh kita akan kembali ke titik A semula. Apa yang dianggap paling elementer adalah juga pelajaran yang paling penting.

Sumber Bacaan:

1.Musashi, Eiji Yoshikawa, Gramedia – Jakarta

2.The Lone Samurai, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta

3.The Book of Five Rings, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta


SUMBER ARTIKEL : lazuardism.blog.friendster.com/2008/10/filsafat-jalan-miyamoto-musashi/
Read more

0 Meode Mengendalikan Hujan Dengan Prana

Kamis, 13 Januari 2011 Label:
Oleh : Agus Sunaryo (MP 34).
Pendahuluan
Begitu banyaknya kegiatan dan aktivitas kehidupan ini yang masih tergantung pada hujan atau panas. Pengaruh hujan dan panas di bidang pertanian sangat dominan. Kita masih ingat begitu banyak dan luasnya lahan pertanian yang kering hingga gagal panen akibat tidak adanya hujan. Demikian pula banyak hasil panen yang tidak bisa dinikmati atau rusak dan harganya menjadi jatuh, karena tidak ada panas untuk menjemurnya.

Meditasi akbar yang digelar di tanah lapang pada saat fullmoon, menjadi bubar berantakan, pesertanya berhamburan mencari tempat berteduh, karena tiba-tiba turun hujan. Demikian pula di tengah khusuknya menjalankan sholat Idul Fitri, terganggu pula karena tiba-tiba hujan deras. Pesta meriah di tempat terbuka menjadi kacau karena hujan lebat yang tiba-tiba turun seperti dicurahkan dari langit.

Adakah yang bisa dijadikan tumpuan kesalahan atas kegagalan pesta serta kerugian panen yang diderita para petani? Apakah ada yang dapat dijadikan kambing hitam? Misal, kebocoran ozon di atmosfir bumi atau pemanasan bumi karena penebangan hutan di Asia hingga menimbulkan efek rumah kaca, yang mengacaukan tata iklim dan cuaca kita saat ini. Atau panitia lupa menghubungi si Pawang Hujan, atau lupa menyediakan 75 payung, atau keliru melakukan analisa luasnya terpal dan layar panggung. Tentu menarik sekali untuk disimak!

Diperlukan sikap yang bijak

Kebutuhan untuk sesaat menunda turunnya hujan, sehingga terbit matahari dan reda hujannya, kadang sangat dibutuhkan dalam kehidupan yang penuh mekanisme dan aktivitas ini. Sebenarnya sudah cukup banyak dalam masyarakat tradisional dari beragam etnik dan suku di Nusantara, yang mempunyai teknik menunda atau menurunkan hujan. Banyak pula pawang hujan yang ada di desa-desa dan kota, yang mampu melakukan teknik penundaan hujan. Hanya saja tidak mudah untuk dipelajari atau sulit diwariskan kepada orang lain. Akibatnya daya linuwih itu sulit dikategorikan dalam kelompok ilmu pengetahuan.

Dalam pembahasan makalah ini, kita akan menggunakan energi prana untuk menunda atau menghentikan hujan. Dalam situasi yang gawat pada tingkat musim kemarau kering yang berkepanjangan, energi prana dapat kita manfaatkan untuk menurunkan hujan. Namun dengan catatan, hendaknya bukan untuk main-main atau egoisme semata-mata. Karena fenomena alam ini sangat diatur oleh Yang Maha Khalik, sehingga permainan hujan panas secara serampangan pasti akan menyebabkan sekelompok orang lain dirugikan. Oleh sebab itu penggunaannya harus sangat bijaksana dan peduli pada kepentingan orang lain.

Sebagai contoh, kita mencoba menunda hujan di suatu daerah kecil demi kepentingan proyek kita di situ untuk waktu beberapa saat dan alhasil hujan pun berhenti selama dua minggu. Padahal di daerah itu para petani sedang ramai-ramai menabur bibit palawija yang diprogram secara gotong royong. Maka kesedihan akan mereka alami, karena bibit tidak bisa tumbuh serempak dengan baik, atau mati kekeringan. Demikian sebaliknya kita menginginkan turun hujan sesaat hanya untuk kepentingan sesaat yang tidak begitu penting, maka orang lain yang sedang memanfaatkan musim panas akan sangat dirugikan, misalnya musim pra panen tembakau, musim membuat garam, dan bagi orang yang sedang mempunyai hajat, akan sangat disusahkan. Oleh sebab itu yakinkan agar lingkungan sekitar Anda tidak dirugikan. Mungkin kita bisa mengelak dengan argumen, bila permohonan hujan atau panas berhasil, berarti Yang Maha Khalik Semesta Alam merestui. Namun sangat kasihan orang tidak memahami teknik ini, yang terkena dampaknya.

Dalam pembahasan berikut ini, akan kami paparkan cara menunda atau mengalihkan hujan ke tempat lain yang lebih memerlukan, dengan teknik tradisional sederhana yang hasilnya cukup memuaskan, lengkap dengan analisanya. Selanjutnya kita akan bahas teknik mengalihkan atau menunda hujan, dan juga sebaliknya untuk menarik hujan dengan pendekatan Konsep dan Teknik Penggunaan Energi Prana.

Menunda Hujan Metode Tradisional Sederhana

yang di gunakan untuk menolak atau lebih tepat menunda dan mengalihkan hujan model tradisional, kadang sangat menggelikan. Namun kenyataannya berpeluang 75% sukses. Katakanlah 4 kali melakukan, 3 kali akan berhasil. Biasanya di gunakan apabila seseorang sedang mempunyai hajat besar, dan takut terganggu oleh hujan. Cara yang di gunakan sangat banyak ragamnya dan bersifat kedaerahan. Dari budaya Jawa, ada beberapa yang populer yakni, dengan:

1. Melemparkan celana dalam calon mempelai ke atas genting.
2. Mendirikan sapu lidi dengan ditusuk cabai merah dan bawang merah.
3. Mendirikan sapu lidi dengan rapalan dan doa secara kejawen.

Tidak tertutup kemungkinan penggunaan daya linuwih untuk menolak atau menyingkirkan hujan, misal dengan puasa dan matiraga serta bentuk keprihatinan lain seperti istiqotsah. Namun sehubungan dengan bahasan penggunaan Energi Prana, maka hanya cara tradisional sederhana saja yang kami sampaikan, sebagai pembanding dan pendamping.

Cara tradisional 1;

Dengan melemparkan celana dalam calon mempelai wanita oleh mempelai wanita itu sendiri. Ini di maksudkan untuk menunjukkan keprihatinan dan harapan pada Sang Khalik Semesta Alam, akan kepolosan dan kepasrahan bahwa hanya Yuhan yang akan mengabulkan harapan agar tidak hujan, pada saat pesta perkawinannya. Dengan dilempar ke atas genting, diharapkan air membalik ke atas dan tidak jadi turun. Sama hakikatnya seperti kepercayaan bahwa gigi bawah yang putus, harus selalu tumbuh ke atas, maka dilempar mengarah ke atas yakni ke genting, sedang gigi atas yang lepas ditanam atau dibuang ke bawah, agar cepat tumbuh mengarah lurus ke bawah.

Cara tradisional 2;

Yaitu penancapan lombok dan cabai merah pada ujung sapu lidi “gerang” ( sapu lidi tua yang sudah aus terpakai) yang didirikan terbalik. Penggunaan ini tanpa harus berdoa maupun membacakan rapal atau kata-kata sakti. Bila ditanyakan pada sebagian besar orang yang melakukan, maka jawabnya singkat saja, yakni biar pedas dan panas sehingga tidak jadi turun hujan. Ditinjau secara konsep Prana, maka lidi yang diberi bawang merah dan cabai merah banyak mengadung Prana Merah, yang bersifat hangat, memperluas, memperlebar mendung hitam tebal menjadi tipis karena diperlebar dan bersifat konstruktif. Dengan demikian mendung yang menggelantung, jadi pudar dan gagal turun menjadi hujan. Suasana jadi konstruktif dan melegakan. Hakikatnya sama dengan cara mengusir tamu yang sangat membosankan dan tidak kunjung pulang. Hal ini banyak dilakukan gadis-gadis Jawa yang dikunjungi oleh para jejaka di malam minggu yang tidak disukai namun tidak berani mengusirnya, atau bila sudah terlalu malam dan berkecenderungan tidak segera pulang.

Dengan cara menggunakan “munthu” atau batu pelumat, uleg sambal pada cobek dan mengacungkannya serta memperagakan seperti menggilas lombok dan bawang merah, memutar kekiri, dari bilik atau ruangan lain dan mengarah ke sang tamu yang bandel. Dalam waktu 5 sampai 7 menit tamu tak dikehendaki itu akan segera permisi pulang. Tentu yang menjadi pertanyaan mengapa tidak mengacungkan dan memutar senduk es atau senduk sayur saja. Mungkin Anda bisa menjawabnya?

Cara tradisional 3;

Yakni dengan menggunakan sapu lidi yang didirikan terbalik, namun sapunya dibuka selebar-lebarnya. Bila perlu diikatkan pada tonggak, sehingga tidak jatuh. Bila jatuh maka hujan tidak akan turun. Setelah sapu dipasang terbalik menghadap ke langit, sambil ikatan sapu dipegang erat-erat dengan tangan kanan, sambil mengucapkan doa dengan mantap sebagai berikut:

“Niat ingsun ora ngedekake sapu biasa, nanging sapu jagad kanggo ngresiki mendhung, udan lan angin saka daerah …. dibuang menyang …., sawetara suwene wektu 3 jam, saking kersaning Allah ingkang murbeng jagad.”


[“ Niat saya tidak mendirikan sapu biasa, tetapi sapu jagad yang berguna untuk menyapu semua mendung dan hujan di atas…. (nama daerah, kota, kecamatan yang ditolak hujannya) untuk jangka waktu .… jam, dipindahkan ke daerah … yang membutuhkan hujan. Ini semua terjadi, karena berkat Allah”].

Cara yang ketiga ini banyak kami gunakan, sebelum mengenal energi Prana. Yang kami warisi dari ibu yang berasal dari keluarga petani. Apabila sedang menjemur padi seusai panen, atau bila mempunyai hajat atau sedang melakukan kegiatan luar ruang dan khawatir terganggu oleh hujan yang turun, padahal mendung sudah gelap dan datang berarak-arakan. Peluang keberhasilannya sangat besar, yakni mendekati 95 % ( dari 20 kali melakukan, hanya 1 kali gagal). Yang terpenting, sapu tetap mengarah ke atas, dan lidi-lidinya membuka lebar mengarah ke segenap penjuru mata angin serta tidak jatuh. Bagi para pemula, tingkat keberhasilannya dimulai dari 50%, dan apabila Anda sering melakukannya di musim hujan, maka seakan-akan Anda sudah dikenal oleh semesta alam atau Sang Khalik si empunya fenomena alam sebagai pelanggan tetap, yang layak untuk dilayani permohonannya.
Namun saat ini teknik dan tata cara-cara tradisional telah dapat diganti dengan penggunaan energi atau tenaga prana, yang lebih praktis tanpa harus menyiapkan sapu lidi ataupun cabai dan bawang merah. Sebelum memastikan Tekniknya, kami coba mengungkapkan Konsep, dengan cara pendekatan Ilmu dan Seni Tenaga Prana lebih dulu, sehingga mudah memahaminya.

MENUNDA HUJAN ATAU MENURUNKAN HUJAN DENGAN ENERGI PRANA

Energi Prana merupakan berkah dan rasa cinta Tuhan Yang Maha Khalik Semesta Alam, kepada kehidupan semua makhluk di alam raya, khususnya manusia. Energi Prana merupakan energi yang berkaitan erat dengan lingkungan hidup, dan berlimpah tersedia di mana-mana. Tuhan memberikan energi dalam sumber yang beraneka ragamnya. Ada yang berasal dari matahari atau prana matahari; demikian pula energi prana yang terkandung di udara atau yang disebut dengan butir-butir vitalitas udara. Juga Prana yang berasal dari bumi atau butir-butir vitalitas bumi. Selain itu, masih ada pula sumber-sumber energi prana yang bersifat tidak permanen, namun masih bisa memberikan dayanya, akibat dari sangat kuat dan banyaknya menyerap prana matahari, udara dan bumi. Sebagai contoh pohon yang tua, sehat dan besar, kemudian air yang mengalir, makanan, sayur-sayuran dan buah-buahan yang segar. Juga tempat-tempat tertentu di mana banyak orang berdoa atau berhubungan dengan Sang Pencipta. Demikian pula tempat-tempat yang terbentuk oleh alam seperti gunung, lembah dan hutan rekreasi yang subur, sangat terasakan besar energi prananya. Namun sebaliknya terdapat pula tempat-tempat yang kurang baik atau sangat sedikit energi Prananya, bahkan banyak energi kotor yang mudah mengkontaminasi lingkungan sekitarnya, sebagai contoh: rumah sakit, pabrik yang penuh polusi, kamar jenasah, kuburan, tempat di atas septiktank dan lainnya.

Dilihat dari waktunya, maka Prana akan terpancar banyak sekali dan berlimpah pada siang hari, sebaliknya habis tengah malam antara jam jam 02.00, 03.00 sampai jam 04.00, energi prana udara sangat rendah, sehingga orang sulit sekali untuk bangun. Mereka memperebutkan prana yang sangat tipis pada jam-jam itu dengan menggunakan pernapasan perut yang panjang, sama seperti kita kalau bernafas menghisap energi prana. Setelah jam 05.00, mereka bangun bersyukur kepada Tuhan dengan doa pagi atau subuh karena telah berhasil tetap hidup. Mereka semua mendapat energi vital dan siap melanjutkan kehidupan hari baru yang penuh energi vital bumi, udara dan prana matahari di siang hari.
Apabila mendung gelap, atau musim hujan yang berkepanjangan, dapat dipastikan merupakan hari-hari yang sangat sedikit energi Prananya. Hujan yang terus-terusan, mendung dan banjir tentu banyak orang kekurangan energi Prana lalu mudah sakit. Bisa kita rasakan langit dan udara yang biasa cerah sedang menderita dan prihatin, cahaya matahari ditutup awan-awan gelap yang menggelantung. Prana udara kacau terkontaminasi uap air, hingga kelembaban udara tinggi, prana bumi tergenangi air. Fenomena alam ini tentu mengusik kita sebagai Pranawan untuk meresponnya.

Konsep Pengetahuan Prana untuk Fenomena Hujan

Beberapa konsep yang telah dipertimbangkan, sehingga dapat ditemukannya teknik penggunaan energi Prana untuk mengalihkan, menunda, menghentikan atau bahkan menurunkan hujan, sesuai dengan kebutuhan, adalah sebagai berikut:
  • Yang memiliki fenomena alam berupa angin, hujan atau panas dan gempa bumi adalah Yang Maha Pencipta Semesta Alam .
  • Prana berwarna mempunyai kegunaan sendiri-sendiri, sehingga dalam teknik aplikasinya, jenis warna harus tidak boleh keliru.
  • Bahwa langit yang mendung dan hujan yang terus-menerus, menyebabkan prana di udara sangat berkurang sekali
  • Energi Prana mengikuti pikiran, sehingga bisa diarahkan dan diprogram sesuai keinginan dan kebutuhan dengan perkenan-Nya
  • Untuk menunda atau mengalihkan hujan dan menurunkan hujan, energi Prana memerlukan satuan waktu yang cukup dan kumulatif
  • Prana merupakan Ilmu Pengetahuan dan Seni, sehingga dalam penerapannya perlu memadukan kedua aspek tersebut.
  • Peraturan emas tetap berlaku, walaupun sifatnya sangat sederhana.

Berdasarkan konsep tersebut, maka yang paling utama dan pertama kali adalah bagaimana agar dalam melakukan praktik ini harus selalu kepada si Empunya Alam Semesta. Kemudian mempertimbangkan dan meneliti apakah ada pihak-pihak yang dirugikan seandainya harus turun hujan atau panas, karena peraturan emas tetap berlaku.

Programkan kapan harus berhenti dan kapan harus turun hujan dengan mempertimbangkan bahwa untuk dapat berhenti dari hujan umumnya lebih cepat. Untuk program segera turun hujan pada musim kemarau atau pada cuaca yang cerah, membutuhkan durasi waktu untuk mengumpulkan kelembaban yang cukup. Namun pengalaman kami, kadang pada cuaca yang cerah dapat segera hujan turun dengan deras sesuai program kita. Dalam kaitan itu tidak lagi melalui pendekatan ilmu dan teknik saja, melainkan pendekatan seni perlu dilakukan juga.

Pendekatan seni yang kami maksudkan, adalah keyakinan kita akan kemanjuran aplikasi menolak, atau menunda dan menurunkan hujan ini. Keragu-raguan merupakan penghambatan program pula, karena energi mengikuti pikiran. Pendekatan seni lain adalah visualisasi dan kapan harus berhenti memberi energi .

Teknik Terapan dengan Tenaga Prana

Setelah mengerti dan memahami konsep tenaga Prana yang digunakan untuk menunda, mengalihkan ataupun menarik turun hujan, maka barulah kita dapat menggunakan teknik dan memilih energi Prana mana yang paling cocok untuk menanggapi fenomena hujan dan cuaca panas itu.

Penggunaan teknik ini, mengambil metoda dan konsep Penggunaan Tenaga Prana tingkat Lanjut, yang telah dirancang oleh Master Choa Kok Sui yang kita cintai dan telah kita rasakan manfaatnya.

TEKNIK MENUNDA ATAU MEMINDAHKAN HUJAN

TEKNIK MENDATANGKAN HUJAN

Namun bukan berarti teknik tingkat dasar yang masih menggunakan Prana Putih, tidak layak digunakan. Hanya saja demi efektivitas. Kemampuan tingkat visualisasi dan kemampuan kontemplasi mempergunakan prana warna pada pranawan tingkat dasar belum sepenuhnya diajarkan.

PENUTUP

Dengan menerapkan teknik mengalihkan atau menunda hujan atau sebaliknya menarik turun hujan pada tempat yang memerlukan, maka sebenarnya kita telah merasakan berkat Tuhan Semesta Alam.
Bukan pada tempatnya untuk memamerkan Ilmu dan Seni menolak dan menurunkan hujan dengan tenaga Prana semata-mata untuk bermain-main. Hal itu sama saja dengan mempermainkan Khalik Semesta Alam. Oleh sebab itu hanya Anda yang bijak saja yang akan merasakan manfaat ini.

Makalah yang sangat menarik ini telah dimuat di MediaPrana no. 7, September 1999. Dan sudah ditampilkan dalam Konvensi Penyembuh Prana Nasional I di Jakarta tahun 2000, Konvensi Penyembuh Prana Dunia di Bali tahun 2002, Sarasehan Penyembuh Prana Nasional di Salatiga tahun 2006, dan sekarang sekali lagi dimuat dengan lebih lengkap blog ini. Bagi yang sudah berhasil melakukannya dengan sukses, silahkan mengirimkan kisah keberhasilannya ke redaksi MediaPrana.
Semoga bermanfaat dan salam Prana!

by. pranaindonesia.wordpress.com
Read more
 
Blog SIEF © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates